ARTICLE AD BOX
Ilustrasi(Antara)
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) memperkuat langkah mitigasi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya jumlah titik panas pada 2026 di tengah ancaman El Nino nan diperkirakan kembali terjadi tahun ini.
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan, berasas pemantauan satelit Terra dan Aqua NASA hingga 15 Juni 2026, jumlah hotspot mencapai 1.007 titik. Angka tersebut meningkat sekitar 205% dibandingkan periode nan sama tahun lampau nan tercatat 330 hotspot.
"Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode nan sama tahun 2025 nan tercatat 330 hotspot, alias naik sekitar 205%," kata Rohmat dalam rapat kerja berbareng Komisi IV DPR RI, Selasa (14/7).
Ia mengungkapkan, luas karhutla sepanjang Januari hingga 31 Mei 2026 mencapai 81.077 hektare. Sebanyak 42.680 hektare alias 53% berada di area hutan, sedangkan 38.390 hektare alias 47% berada di luar area hutan. Berdasarkan jenis lahannya, 55 persen kebakaran terjadi di tanah mineral dan 45% di lahan gambut, terutama di Kalimantan Barat dan Riau.
Menurut Rohmat, pemerintah telah melakukan 1.586 operasi pemadaman melalui Satgas Darat dengan cakupan penanganan mencapai 12.381 hektare.
"Selain itu, operasi modifikasi cuaca dilakukan di Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Aceh, dan Jambi guna menjaga kelembapan lahan dan mendukung operasi pemadaman," jelas dia.
Kemenhut juga menjatuhkan hukuman kepada 13 pemegang perizinan berupaya pemanfaatan rimba (PBPH) mengenai penemuan hotspot dan tanggungjawab pelaporan serta memberikan hukuman administratif kepada 14 subjek norma nan melanggar ketentuan pengendalian kebakaran hutan.
Rohmat menambahkan, secara jangka panjang tren luas karhutla menunjukkan penurunan. Pada 2025 luas kebakaran tercatat 359.600 hektare alias turun 78% dibandingkan El Nino 2019 dan turun 69% dibandingkan El Nino 2023. (E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·