Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Amerika Serikat (AS)-Iran kembali memicu gejolak di pasar daya global. Dua kapal tanker nan mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia terpaksa berbalik arah di Laut Merah setelah golongan Houthi nan didukung Teheran menakut-nakuti bakal menyerang kapal-kapal nan memuat alias membongkar minyak Saudi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan hingga sekarang Houthi belum betul-betul menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis nan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Meski begitu, dia menegaskan Washington siap bertindak jika ancaman tersebut diwujudkan.
"Sejauh ini perihal itu belum terjadi. Jika perihal seperti itu terjadi, kami bakal mengurusnya," ujar Trump, seperti dikutip Reuters, Rabu (22/7/2026).
Ancaman Houthi muncul setelah golongan itu mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan mengirim surat kepada perusahaan pelayaran nan memperingatkan bakal menyerang kapal pengangkut minyak Saudi. Dampaknya langsung terasa ketika dua tanker nan baru memuat minyak di Pelabuhan Yanbu mengubah rute menuju Terusan Suez, alih-alih melintasi Bab el-Mandeb menuju Samudra Hindia.
Situasi ini memperburuk tekanan terhadap jalur pengedaran daya dunia. Setelah Selat Hormuz terganggu akibat perang, Laut Merah menjadi rute pengganti utama bagi jutaan barel minyak Saudi nan dialirkan melalui jaringan pipa ke Yanbu. Jika akses Laut Merah juga terhambat, pasokan minyak dunia berisiko semakin ketat.
Ketegangan juga terus meningkat di medan perang. Militer AS menyatakan telah melancarkan serangan terhadap pusat komando militer, akomodasi maritim, letak peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara Iran selama 11 malam berturut-turut. Sementara itu, media Iran melaporkan ledakan terjadi di Teheran, Chabahar, Konarak, hingga Bushehr nan menjadi letak satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir negara tersebut.
Trump juga kembali menakut-nakuti bakal menyerang akomodasi nuklir Natanz. Di sisi lain, Iran menegaskan bakal membalas setiap serangan. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Iran mengatakan sedikitnya 50 penduduk sipil tewas dan 500 lainnya terluka akibat serangan terbaru AS.
Di tengah eskalasi tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan perang telah menghabiskan biaya sekitar US$37,5 miliar alias sekitar Rp675 triliun. Ia juga meminta persetujuan Kongres untuk tambahan anggaran US$70 miliar alias sekitar Rp1.260 triliun, sebagian besar guna mengisi kembali stok rudal nan mulai menipis.
"Kami memerlukan biaya tambahan untuk mendukung operasi dan mengisi kembali persediaan rudal," katanya dalam sidang Senat.
Gangguan terhadap pengiriman minyak turut mendorong lonjakan nilai energi. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% hingga memperkuat di atas US$91 per barel, sementara nilai bensin di AS kembali menembus US$4 per galon.
Meski situasi keamanan terus memburuk, kesempatan diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran telah menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari mediator. Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni juga telah mengunjungi Pakistan untuk meminta Islamabad melanjutkan upaya mediasi demi meredakan bentrok nan semakin menakut-nakuti stabilitas area dan pasar daya dunia.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·