Hubungan RI-Thailand Makin Lengket, Ini Target Besar Anindya Bakrie

50 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengungkapkan, sasaran perdagangan antara Indonesia dan Thailand pada 2030 mendatang diharapkan mencapai US$ 30 miliar. Sementara saat ini, perdagangan antara kedua negara mencapai US$ 17,5 miliar.

"Kita tahu bahwa Thailand dan Indonesia adalah dua ekonomi terbesar di ASEAN. Saat ini, ekonomi kita mewakili 357 juta orang dan nyaris US$2 triliun dolar dalam output. Perdagangan di antara kita berbobot US$17,5 miliar, dan saya percaya kedua pemimpin sudah berbincang tentang menembus nomor US$30 miliar dolar pada tahun 2030, mudah-mudahan," ujarnya dalam aktivitas Indonesia-Thailand Business Forum di Hotel Fairmont Jakarta, Selasa (3/8/2026).

Anindya mengatakan, hubungan bilateral antara Indonesia dan Thailand terjalin dengan baik hingga saat ini. Mulai dari pendirian ASEAN hingga support tuan rumah Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Asia dan Pasifik di Bangkok.

Terakhir, hubungan bilateral antara kedua negara tersebut terjalin melalui pertemuan antara Perdana Menteri Anutin dan Presiden Prabowo nan meluncurkan Rencana Kemitraan Strategis untuk tahun 2026 hingga 2030.

Anindya menyebut Kadin Indonesia juga bekerja sama dengan Dewan Perdagangan dan Dewan Komersial Thailand. Kerja sama tersebut termasuk di sektor pasar karbon.

"Kami mau melaporkan, berbareng rekan kami, kawan saya, kami menandatangani dua MOU. Satu antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia alias Kadin, dengan Dewan Perdagangan dan Dewan Komersial, dan kami juga menandatangani kerja sama di pasar karbon," ungkapnya.

Dia lampau memaparkan kerja sama di pasar karbon bermaksud untuk memajukan pasar karbon berintegritas tinggi dan memobilisasi investasi dalam proyek-proyek karbon. Hal itu seiring dengan perkembangan AI dan pertumbuhan industri nan mendorong permintaan daya semakin tinggi.

"Perusahaan-perusahaan secara dunia bakal memerlukan cara-cara nan andal dan terjangkau untuk mengimbangi apa nan mereka emisikan, dan pasar karbon mengubah tanggungjawab itu menjadi sebuah peluang," sebutnya.

Selain itu, Kadin dan Thai Chamber of Commerce juga bekerja sama dalam sektor ekonomi halal, jasa, serta hilirisasi dan manufaktur. "Ada banyak kesempatan di bagian halal, daya bersih, konektivitas digital, hingga manufaktur maju dan juga ekonomi digital," imbuhnya.

Anindya mengatakan lebih jauh, Ia optimistis Indonesia dan Thailand dapat menjadi pemimpin dunia dalam bagian ketahanan pangan. Menurutnya, Thailand unggul dalam bagian pertanian, mulai dari beras melati hingga buah-buahan tropis.

"Produk-produk Thailand dinikmati di seluruh dunia. Saya tidak bakal mulai memperdebatkan durian siapa nan lebih baik, Thailand alias Indonesia; saya rasa perihal itu sebaiknya dibiarkan tidak terselesaikan. Indonesia membawa sumber daya alam nan melimpah, keanekaragaman hayati, dan skala besar, sedangkan Thailand membawa puluhan tahun keahlian, inovasi, dan kepemimpinan dunia dalam pertanian," jelasnya.

Anindya menyebut, pergeseran rantai pasok, teknologi nan mengubah industri, dan prioritas ketahanan pangan serta daya perlu dipikirkan untuk membangun dunia. "Karena ketika skala Indonesia berjumpa dengan kelebihan Thailand, kita dapat menciptakan solusi nan menjangkau jauh melampaui pemisah negara kita," sebutnya.

"Jadi marilah kita memperdalam perdagangan, marilah kita meningkatkan investasi, marilah kita mendorong lebih banyak pengusaha dan family untuk bekerja sama, dan nan terpenting, mari kita berinovasi bersama, sehingga kemakmuran nan kita ciptakan dapat dinikmati berbareng oleh rakyat kita," tambahnya.

Dalam kesempatan nan sama, Ketua Kamar Dagang Thailand (TCC) sekaligus Ketua Dewan Perdagangan Thailand Poj Aramwattananont mengatakan, kemitraan l menjadi semakin penting. Saat upaya bumi menghadapi ketidakpastian geopolitik dan perubahan rantai pasok, perusahaan-perusahaan mencari mitra kepercayaan dan rantai pasok nan lebih tangguh, ASEAN menerima perhatian nan lebih besar dari sebelumnya.

Menurutnya, kerja sama ini menciptakan peluang, terutama Indonesia dan Thailand jika bekerja lebih erat bersama-sama. Tidak hanya pemerintah ke pemerintah, tetapi juga upaya ke bisnis, sektor swasta dan sektor swasta, masyarakat dan masyarakat.

"Kami membantu upaya mengeksplorasi pasar baru, membangun rantai nilai regional, dan menciptakan kesempatan nyata untuk pertumbuhan bagi kedua negara," sebutnya.

Ia menambahkan, tantangan nan dihadapi saat ini tidak berakhir di pemisah negara. Sehingga, respons kita juga tidak semestinya berakhir di sana.

"Marilah kita memperkuat rantai nilai regional, memperluas investasi dan perdagangan, serta menciptakan lebih banyak kesempatan bagi upaya di seluruh ASEAN. Masa depan ASEAN tidak bakal ditentukan oleh gimana kita bersaing satu sama lain, tetapi seberapa baik kita bersaing bersama-sama dengan seluruh dunia," tutupnya.

(rob/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya