Ilmuwan Temukan Senyawa Gula di Pusat Galaksi Bima Sakti

1 hari yang lalu 4
Ilmuwan Temukan Senyawa Gula di Pusat Galaksi Bima Sakti ilustrasi(Magnific)

PARA intelektual kembali menorehkan pencapaian di bagian astronomi dan astrobiologi. Untuk pertama kalinya, mereka menemukan senyawa gula "sejati" alias true sugar di ruang antarbintang (interstellar medium), ialah wilayah nan membentang di antara sistem-sistem bintang di dalam galaksi.

Melansir dari laman Space.com senyawa nan ditemukan adalah erythrulose, sejenis gula nan juga secara alami terdapat pada buah raspberry dan digunakan dalam sejumlah produk kosmetik, seperti self-tanner. Penemuan tersebut dilakukan pada sebuah awan molekuler di dekat pusat Galaksi Bima Sakti, tempat nan dipenuhi gas dan debu kosmik serta menjadi letak lahirnya bintang dan planet.

Meski terdengar sederhana, keberadaan gula di ruang antarbintang dinilai sangat krusial lantaran dapat memberikan petunjuk baru mengenai gimana kehidupan pertama kali muncul di alam semesta, termasuk kemungkinan asal-usul kehidupan di Bumi.

Bukan Penemuan Gula Pertama di Luar Angkasa

Sebenarnya, gula bukan pertama kali ditemukan di luar angkasa. Pada 2023, misi OSIRIS-REx milik NASA sukses membawa sampel asteroid Bennu ke Bumi. Analisis terhadap sampel tersebut menemukan butiran material nan mengandung senyawa gula.

Selain itu, para intelektual juga pernah mendeteksi gula pada sampel meteorit. Bahkan, lebih dari 25 tahun lalu, penelitian telah melaporkan adanya molekul gula di area pusat Galaksi Bima Sakti.

Namun, penemuan terbaru ini mempunyai makna nan jauh lebih besar. Pasalnya, untuk pertama kalinya gula ditemukan langsung di medium antarbintang, ialah ruang di antara bintang-bintang tempat beragam molekul kimia terbentuk sebelum akhirnya menjadi bagian dari sistem planet baru.

Lebih menarik lagi, erythrulose merupakan "gula sejati" pertama nan sukses diidentifikasi di lingkungan tersebut.

Sebelumnya memang telah ditemukan sejumlah senyawa nan menyerupai gula di ruang angkasa, tetapi belum memenuhi karakter sebagai gula sejati. Dalam pengetahuan kimia, gula sejati mempunyai rantai utama nan tersusun dari sedikitnya tiga atom karbon. Erythrulose sendiri mempunyai empat atom karbon sehingga masuk ke dalam kategori tersebut.

Mengapa Penemuan Ini Penting?

Menurut para peneliti, penemuan erythrulose membuka kesempatan lebih besar untuk menemukan molekul organik lain nan jauh lebih krusial bagi kehidupan.

Salah satu penulis studi, Carlos Briones, mengatakan bahwa keberadaan erythrulose dapat menjadi awal dari penemuan senyawa gula lainnya.

"Penemuan erythrulose sangat menarik lantaran membuka kemungkinan untuk menemukan gula lain di ruang angkasa, seperti ribosa nan merupakan bagian dari RNA, serta molekul-molekul krusial lainnya nan berkedudukan dalam asal-usul kehidupan," ujar Briones.

RNA merupakan salah satu molekul nan berkedudukan krusial dalam menyimpan dan meneruskan info genetik. Karena itu, keberadaan gula nan menjadi penyusun RNA dapat membantu intelektual memahami gimana molekul kehidupan mulai terbentuk di alam semesta.

Gula Bisa Terbentuk Secara Alami di Luar Angkasa

Penulis utama penelitian, Izaskun Jiménez-Serra, astronom dari Center for Astrobiology di Madrid dan Spanish National Research Council, mengatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan molekul gula rupanya dapat terbentuk secara alami di ruang angkasa.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa gula dapat terbentuk secara alami di luar angkasa," kata Jiménez-Serra.

Ia menjelaskan bahwa erythrulose merupakan temuan nan sangat krusial lantaran senyawa tersebut dapat berubah menjadi bahan penyusun masam nukleat.

"Erythrulose mungkin menyediakan bahan baku bagi pembentukan masam nukleat pertama. Itulah sebabnya penemuan erythrulose sangat krusial untuk memahami asal-usul kehidupan," jelas Jiménez-Serra.

Asam nukleat sendiri merupakan molekul nan menyimpan info genetik dalam sel dan menjadi komponen utama DNA maupun RNA. Tanpa molekul tersebut, kehidupan seperti nan dikenal saat ini tidak bakal dapat terbentuk.

Mungkinkah Kehidupan Berasal dari Ruang Antarbintang?

Para intelektual menjelaskan bahwa bintang dan planet lahir di dalam awan molekuler raksasa nan tersusun atas gas dan debu. Jika erythrulose memang terbentuk di lingkungan tersebut, molekul itu berpotensi menempel pada asteroid, komet, maupun barang langit mini lainnya.

Ketika benda-benda langit tersebut menghantam sebuah planet muda, senyawa organik nan dibawanya dapat tertinggal di permukaan dan menjadi salah satu bahan dasar nan mendukung terbentuknya kehidupan.

Hipotesis ini sejalan dengan teori nan telah lama berkembang di kalangan ilmuwan. Sekitar 4 miliar tahun lalu, Bumi diperkirakan mengalami periode pemboman dahsyat oleh asteroid dan komet. Tumbukan tersebut diyakini tidak hanya membawa air, tetapi juga beragam molekul organik nan diperlukan untuk memulai proses kimia menuju kehidupan.

Dengan ditemukannya erythrulose di ruang antarbintang, para peneliti sekarang mempunyai bukti baru bahwa bahan-bahan penyusun kehidupan mungkin telah terbentuk jauh sebelum planet seperti Bumi lahir. Molekul-molekul tersebut kemudian dapat diantarkan ke beragam planet melalui asteroid alias komet, sehingga membuka kemungkinan bahwa bibit kehidupan berasal dari ruang antarbintang.

(Space/P-4)

Selengkapnya