Inflasi DKI Jakarta Melandai pada Juli 2026, Pasokan Pangan Meningkat

59 menit yang lalu 1
Inflasi DKI Jakarta Melandai pada Juli 2026, Pasokan Pangan Meningkat Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Bambang Arianto(Dok BI DKI Jakarta)

INFLASI tahunan DKI Jakarta kembali melandai pada Juli 2026 seiring membaiknya pasokan pangan. Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), DKI Jakarta mencatat deflasi sebesar 0,15% secara bulanan (month to month/mtm), lebih dalam dibandingkan deflasi nasional sebesar 0,14% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Ibu Kota tercatat sebesar 2,50% (year on year/yoy), turun dibandingkan periode sebelumnya dan menjadi nan kedua terendah di Pulau Jawa setelah Provinsi Banten. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional nan mencapai 2,88% (yoy).

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Bambang Arianto mengatakan, terkendalinya inflasi menunjukkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi nan dilakukan berbareng Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan seluruh personil Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

"Inflasi DKI Jakarta pada Juli 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Kondisi ini didukung oleh membaiknya pasokan pangan serta penguatan sinergi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga," ujar Bambang dalam keterangannya, Selasa (4/8).

Deflasi pada Juli terutama dipengaruhi oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau nan mengalami deflasi sebesar 1,07% (mtm), lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,09% (mtm).

Penurunan nilai terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura seperti cabe merah, cabe rawit, dan bawang merah seiring meningkatnya pasokan dari wilayah sentra produksi, antara lain Brebes, Kendal, dan Jawa Barat. Selain itu, nilai daging ayam ras dan telur ayam ras juga menurun akibat meningkatnya pasokan dari Jawa Barat, Blitar, dan Lampung di tengah permintaan nan relatif stabil.

"Terjaganya pasokan dari beragam wilayah sentra produksi menjadi aspek utama nan mendorong penurunan nilai komoditas pangan strategis. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan kerja sama antardaerah dalam menjaga stabilitas inflasi pangan," kata Bambang.

Selain golongan pangan, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mencatat deflasi sebesar 0,83% (mtm), dipengaruhi turunnya nilai emas perhiasan sejalan dengan koreksi nilai emas global.

Di sisi lain, laju deflasi tertahan oleh inflasi pada Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran nan mengalami inflasi sebesar 0,51% (mtm), dipicu kenaikan nilai makanan jadi seperti ketupat alias lontong sayur dan soto akibat penyesuaian biaya operasional.

Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga juga mencatat inflasi sebesar 0,42% (mtm), terutama didorong kenaikan nilai deterjen cair.

Sementara itu, Kelompok Transportasi mengalami inflasi sebesar 0,02% (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,54% (mtm). Perlambatan tersebut dipengaruhi penurunan tarif pikulan udara setelah berakhirnya masa libur sekolah serta turunnya nilai avtur domestik. Namun, inflasi tetap tertahan oleh akibat lanjutan kenaikan nilai bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi nan bertindak pada pertengahan Juni lalu.

Sepanjang Juli 2026, TPID Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian inflasi melalui penerapan strategi 4K, ialah keterjangkauan harga, kesiapan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Berbagai langkah nan dilakukan antara lain penyelenggaraan Program Pangan Bersubsidi, pasar murah oleh BUMD Pangan, penyaluran beras termasuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penguatan kerja sama antardaerah, Gerakan Tanam Serentak, pengedaran pangan menggunakan truk keliling, hingga penyelenggaraan Festival Pangan Olahan dan Festival Urban Farming.

Bambang menegaskan, Bank Indonesia berbareng TPID bakal terus memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi beragam akibat inflasi, baik nan berasal dari aspek dunia maupun domestik.

"Ke depan, strategi 4K bakal terus diperkuat untuk memitigasi beragam risiko, termasuk ketidakpastian dunia dan potensi cuaca kering nan dapat memengaruhi produksi pangan. Dengan sinergi nan kuat, kami optimistis inflasi DKI Jakarta dapat tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1% sepanjang 2026," ujar Bambang. (E-4)

Selengkapnya