Insinerator TPA Warloka Labuan Bajo Rusak, Sampah Menumpuk hampir Dua Tahun

6 jam yang lalu 4
Insinerator TPA Warloka Labuan Bajo Rusak, Sampah Menumpuk nyaris Dua Tahun Kondisi TPA Warloka Labuan Bajo.(Dok. MI/Marianus)

PERSOALAN sampah menjadi salah satu rumor paling krusial dalam pembahasan Panitia Khusus (Pansus) Tata Kelola Kepariwisataan DPRD Manggarai Barat. Di tengah ambisi memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai lokasi wisata kelas dunia, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Warloka justru menghadapi ancaman serius akibat kerusakan dua unit mesin pembakaran (insinerator) nan telah berjalan nyaris dua tahun.

Padahal, keberadaan insinerator tersebut merupakan bagian dari support pemerintah pusat untuk memperkuat prasarana Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manggarai Barat, Vinsensius Gande, mengonfirmasi bahwa kerusakan ini menghentikan total proses pembakaran sampah.

"Kondisi TPA Warloka saat ini memang menjadi perhatian serius kami. Tantangan terbesar bukan hanya meningkatnya volume sampah setiap tahun, tetapi juga lantaran dua unit insinerator nan sudah nyaris dua tahun mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dioperasikan," ujar Vinsensius, Jumat (26/6/2026).

Akibat tidak berfungsinya perangkat tersebut, seluruh sampah nan masuk sekarang hanya ditimbun secara konvensional, sehingga volume tumpukan terus membengkak setiap hari. Vinsensius menjelaskan bahwa perbaikan tidak bisa dilakukan secara instan lantaran memerlukan tenaga mahir unik untuk menangani komponen teknis nan rusak.

Kapasitas TPA dan Lonjakan Volume Sampah

Saat ini, TPA Warloka mempunyai luas total sekitar lima hektare. Namun, area efektif nan tetap dapat digunakan untuk menampung sampah hanya tersisa sekitar 0,74 hektare alias 7.400 meter persegi. Dalam kondisi normal dengan insinerator berfungsi, kapabilitas ini diprediksi bisa memperkuat hingga tahun 2036. Namun, tanpa proses pembakaran, umur jasa TPA dipastikan bakal jauh lebih pendek.

Data DLH menunjukkan tren peningkatan timbulan sampah nan signifikan di Manggarai Barat:

  • 2022: 5.151,89 ton (14,11 ton/hari)
  • 2023: 6.718,30 ton
  • 2024: 7.055,91 ton
  • 2025: 9.010,61 ton
  • Hingga pertengahan 2026: 3.667,11 ton (rata-rata 24,45 ton/hari)

Mayoritas sampah didominasi oleh material organik, disusul plastik, kertas, kaca, dan tekstil. Rendahnya kesadaran pemilahan di tingkat hulu menyebabkan beban TPA semakin berat.

Kepatuhan Sektor Pelayaran dan Perhotelan Rendah

Selain hambatan teknis di TPA, DLH juga menyoroti rendahnya kepatuhan pengelolaan sampah dari sektor penunjang pariwisata. Dari 412 kapal nan beraksi di perairan Labuan Bajo, tercatat hanya 271 kapal nan aktif bayar retribusi sampah. Di sektor perhotelan, tetap banyak pelaku upaya nan belum melakukan pemilahan sampah sesuai ketentuan.

Vinsensius menegaskan bahwa solusi sampah tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan akomodasi di hilir. "Kami membujuk seluruh masyarakat, pelaku usaha, hotel, restoran, dan organisasi untuk bersama-sama mengurangi sampah dari sumbernya. Kalau pengurangan di hulu tidak berjalan, sebaik apa pun akomodasi di TPA tidak bakal bisa mengimbangi laju peningkatan sampah," tegasnya.

Temuan ini menjadi prioritas Pansus DPRD Manggarai Barat. Tanpa sistem persampahan nan mumpuni, gambaran premium Labuan Bajo dikhawatirkan bakal tergerus oleh krisis lingkungan nan tak kunjung usai.

Vinsensius menutup dengan menekankan bahwa kebersihan Labuan Bajo adalah tanggung jawab kolektif. Keberhasilan menjaga wajah destinasi ini sangat berjuntai pada partisipasi seluruh komponen masyarakat, bukan hanya pemerintah semata. (H-3)

Selengkapnya