Iran Klaim Situasi AS Kacau, Penarikan Washington Tergantung Zionis

19 jam yang lalu 5
Iran Klaim Situasi AS Kacau, Penarikan Washington Tergantung Zionis Ilustrasi.(Magnific)

MILITER Iran menyatakan bahwa posisi Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam kondisi kacau dan tidak menguntungkan menyusul meningkatnya ketegangan di area strategis Selat Hormuz. Teheran secara terbuka menyebut pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai sasaran utama tindakan jawaban mereka.

Juru bicara militer Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa Washington kandas mencapai tujuannya, baik dalam mengamankan kepentingan di Selat Hormuz maupun dalam upaya melemahkan pengaruh Iran di area tersebut.

"Situasinya kacau dan tidak menguntungkan bagi Amerika," ujar Shekarchi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Minggu (26/7/2026).

Shekarchi menambahkan bahwa AS saat ini tengah berupaya mencari strategi baru. Namun, dia menilai kemungkinan Washington untuk menarik diri dari eskalasi perang sangat berjuntai pada izin Zionis, istilah nan merujuk pada pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri AS.

Pelanggaran Nota Kesepahaman Selat Hormuz

Ketegangan ini dipicu oleh perselisihan mengenai pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Brigadir Jenderal Mohammad Reza Akraminia menyatakan bahwa Iran terpaksa mengambil tindakan tegas untuk memihak hak-haknya setelah AS dianggap melanggar komitmen internasional.

"AS melanggar komitmennya dan mencoba menciptakan jalur tiruan serta terlarangan di Selat Hormuz nan bertentangan dengan nota kesepahaman (MoU) nan ditandatangani pada Juni lalu," jelas Akraminia seperti dikutip dari instansi buletin Tasnim.

Akraminia mengungkapkan bahwa dalam operasi militer nan dirancang, Angkatan Darat Republik Islam Iran memetakan pangkalan-pangkalan utama AS di area sebagai sasaran operasi.

"Kami menjadikan pangkalan-pangkalan AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, nan dianggap sebagai pangkalan terpenting negara itu di kawasan, sebagai pusat operasi kami," tegasnya.

Eskalasi Serangan dan Upaya Diplomasi

Runtuhnya nota kesepahaman tersebut memicu rangkaian kontak senjata. Sebelumnya, AS dilaporkan melancarkan serangan udara ke wilayah Iran selama 13 malam berturut-turut. Iran kemudian membalas dengan menyerang akomodasi militer AS di tiga negara tetangga tersebut.

Di sisi lain, laporan media AS menyebut bahwa Presiden Donald Trump menghentikan sementara serangan pada Jumat lalu. Keputusan ini diambil lantaran ada kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan rudal pencegat milik militer AS, sekaligus memberikan ruang bagi kemungkinan upaya diplomasi guna meredam bentrok nan lebih luas. (Al Jazeera/I-2)

Selengkapnya