Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengungkapkan sempat menyiapkan serangan jawaban terhadap Ukraina menyusul serangan pesawat nirawak (drone) terhadap kapal kargo Iran di Laut Kaspia pada 25 Juli. Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah Kyiv disebut menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan kekeliruan.
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaee dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menegaskan ini dalam sebuah wawancara. Dikatakannya, Teheran apalagi telah menetapkan sejumlah sasaran di Ukraina sebelum akhirnya mengurungkan serangan tersebut.
"Kami sudah bersiap untuk menyerang tiga letak di Ukraina, namun membatalkan serangan tersebut menyusul permintaan maaf dari Ukraina," ujar Rezaee, seperti dikutip Press TV, Selasa (4/8/2026).
"Namun, meskipun itu adalah sebuah kekeliruan, tetap bakal adakonsekuensinya," tegas Rezaee mengatakan Iran tetap bakal menindaklanjuti kejadian tersebut, sebagaimana dikutip instansi buletin Fars.
Sebenarnya, kejadian itu bermulai ketika Ukraina menyerang kapal Iran di Laut Kaspia menggunakan drone. Serangan tersebut menewaskan seorang pelaut. Kyiv menuduh kapal itu mengangkut peralatan militer untuk Rusia.
Sementara Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan kapal tersebut membawa muatan sipil. Rusia sendiri mengidentifikasi kapal itu sebagai kapal kargo kering berjulukan Ana.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Menlu Ukraina Andrey Sibiga telah menyampaikan melalui sambungan telepon bahwa serangan itu tidak disengaja dan Kyiv tidak menginginkan eskalasi. Meski menerima penjelasan tersebut, Araghchi tetap menuntut kompensasi atas kejadian nan menewaskan awak kapal Iran.
Sibiga sempat menolak ancaman pembalasan Iran dengan menyebutnya "tidak berdasar dan tanpa argumen nan sah". Namun belakangan dia melunakkan sikap dengan menegaskan bahwa Kyiv "tidak pernah beriktikad menargetkan kapal alias penduduk sipil".
Rusia turut mengecam serangan terhadap kapal Iran dan menyebut tindakan tersebut melanggar norma internasional. Moskow juga menuduh Ukraina berupaya memperluas cakupan operasi nan disebutnya sebagai aktivitas terorisme.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran kembali membantah memasok persenjataan kepada Rusia, selain pengiriman terbatas drone Shahed-136 sebelum pecahnya perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022. Sementara itu, Rusia menegaskan drone Geran-2 nan digunakan militernya diproduksi di dalam negeri dan membantah pernah mengirimkan senjata ke Iran selama serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

58 menit yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·