Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Israel (IDF) kembali memperluas wilayah kendalinya di Jalur Gaza dengan menggeser penanda blok beton alias "garis kuning" (yellow line) di sejumlah titik strategis. Langkah tersebut memicu gelombang pengungsian baru setelah ribuan penduduk Palestina kembali dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
Mengutip Reuters pada Rabu (29/7/2026), ekspansi area militer mencakup wilayah Zeitoun, Tuffah, Shejaia di Kota Gaza, serta Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah utara. Warga menyebut pergeseran garis kuning membikin mereka tidak mempunyai pilihan selain mengungsi demi menghindari operasi militer Israel.
"Kami mengambil barang-barang kami dan bakal meninggalkan tempat ini lantaran pihak pendudukan (Israel) telah memindahkan garis kuning hingga ke Jalan Salah al-Din. Seluruh perang ini adalah pengungsian demi pengungsian," ujar Assem Dawla, penduduk distrik Zeitoun.
Menurut kesaksian warga, militer Israel menyampaikan perintah pemindahan melalui pesan singkat (SMS) dan pengeras bunyi nan dibawa drone. Sehari setelah peringatan diberikan dan serangan dilancarkan, blok-blok beton penanda garis kuning langsung dipasang di letak baru.
"Mengapa saya pergi? Mereka (tentara Israel) sudah semakin dekat dan memasang garis kuning di sini. Sehari sebelumnya mereka menyerang di sana, jadi kami kudu pergi," kata Umm Sami, penduduk Gaza nan kembali mengungsi.
Garis kuning merupakan pemisah demarkasi militer nan sebelumnya disepakati dalam proposal gencatan senjata nan diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Oktober 2025 lalu. Rencana tersebut mencakup penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, serta peningkatan pengedaran support kemanusiaan, namun hingga sekarang implementasinya tetap menemui jalan buntu.
Di tengah mandeknya proses perdamaian, Israel terus memperluas penguasaan wilayah di Gaza. Hingga akhir April lalu, Israel dilaporkan telah mengendalikan sekitar 64% wilayah Gaza, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 28 Mei menyatakan sasaran untuk memperluas kontrol hingga 70% wilayah enklave tersebut.
Militer Israel menyatakan penempatan garis kuning dilakukan sebagai bagian dari pembentukan area keamanan guna melindungi wilayah Israel dan mengurangi kontak langsung antara pasukan dengan penduduk sipil.
"Postur pertahanan IDF di area tersebut mencakup area keamanan, rintangan fisik, keahlian intelijen, sarana teknologi, serta aktivitas operasional oleh pasukan IDF," demikian pernyataan resmi militer Israel.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan perintah pemindahan terbaru di Zeitoun telah memaksa sedikitnya 30 family meninggalkan tenda pengungsian mereka, nan kemudian dihancurkan oleh pasukan Israel. Saat ini, nyaris seluruh dari sekitar 2 juta masyarakat Gaza memperkuat di area pesisir sempit nan tetap berada di bawah kendali Hamas dengan akses support kemanusiaan nan sangat terbatas.
(tps/tfa)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·