Isu Istana Cawe-Cawe di Muktamar PBNU, Gus Yahya: Klaim Direstui Presiden Itu Pasti Bohong

4 jam yang lalu 5
ARTICLE AD BOX
 Klaim Direstui Presiden Itu Pasti Bohong Ketum PBNU Gus Yahya.(MI/Susanto)

KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, menepis rumor adanya intervensi alias tindakan 'cawe-cawe' dari pihak Istana alias Presiden Prabowo Subianto pada penyelenggaraan Muktamar PBNU pada akhir Agustus mendatang. Gus Yahya menegaskan, klaim dari figur tertentu nan mengaku mengantongi restu presiden untuk maju sebagai calon ketua umum adalah sebuah kebohongan.

"Saya tidak memandang juga kepentingan Presiden alias Istana misalnya untuk mempengaruhi, untuk cawe-cawe mengenai dengan NU ini buat apa. Enggak ada gunanya bagi pemerintah, enggak ada gunanya bagi presiden sendiri misalnya. Dan jika ada nan menyatakan bahwa dia misalnya direstui, apalagi diperintah oleh presiden, pasti bohong," ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (14/7).

Gus Yahya tidak menampik adanya rumor mengenai oknum nan mencoba menjual nama kepala negara demi mendongkrak elektabilitas dan support di tingkat bagian menjelang Muktamar. Namun, dia meyakini Presiden Prabowo saat ini jauh lebih mementingkan kerja sama pembangunan nan objektif daripada mengintervensi urusan rumah tangga NU.

"Kemarin kita dengar-dengar sih ada yang... 'ini saya ini maju lantaran direstui oleh presiden' misalnya begitu. Itu pasti bohong. Karena enggak ada kepentingan pemerintah untuk cawe-cawe di dalam urusan NU. Karena itu tidak ada gunanya. Lebih baik pemerintah bekerja sama secara wajar dengan NU untuk kepentingan pembangunan negara, daripada ikut cawe-cawe urusan internal," tambahnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya mengingatkan soal rekam jejak dan sejarah panjang NU. Ia mengatakan PBNU mempunyai kedewasaan dan kemandirian lembaga nan jauh lebih matang lantaran usianya apalagi lebih tua dari Indonesia.

"Nahdlatul Ulama ini umurnya lebih tua dari Indonesia. Nahdlatul Ulama itu lahir 1926, Indonesia ini proklamasi baru 1945. Kalau soal kematangan di dalam memproses kepentingan bersama, NU sebagai suatu entitas ini insya Allah sudah bisa kita andalkan. Bahwa ada pihak-pihak nan mau kombinasi tangan, mau ini mau itu, ya itu biasalah. Tetapi kita bisa memandang bukti bahwa NU senantiasa tetap di dalam kemandiriannya," urai Gus Yahya.

Lebih lanjut, Gus Yahya melayangkan peringatan keras kepada pihak-pihak nan tetap beriktikad memecah belah alias mengintervensi NU. "Saya rasa tradisi kematangan nan panjang ini bakal dapat menjaga integritasnya. Kalau ada nan mau coba-coba ya silakan kelak merasakan hasilnya lah, kira-kira begitu saja," pungkasnya. (Faj/P-3)

Selengkapnya