Jakarta Perlu Lebih Banyak Investasi Asing

1 jam yang lalu 2
Jakarta Perlu Lebih Banyak Investasi Asing Ruas tol dalam kota Jakarta.(Dok. Antara)

PERTUMBUHAN harga properti residensial di Jakarta dinilai tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan kota-kota besar Asia seperti Tokyo, Manila, maupun Seoul. Perbedaan esensial pasar hingga karakter penanammodal membikin setiap kota mempunyai dinamika nan berbeda.

Head of Research Knight Frank Asia Pacific, Christine Li, mengatakan, investasi properti pada dasarnya tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal. Karena itu, posisi Jakarta sebaiknya tidak hanya dinilai berasas performanya dibandingkan pasar properti di Jepang, Australia, Korea Selatan, maupun negara lain.

Menurut Christine, masing-masing pasar mempunyai esensial serta profil penanammodal nan berbeda, baik pada sektor properti komersial maupun residensial.

“Pasar-pasar tersebut mempunyai esensial dan dinamika nan sangat berbeda. Mereka juga menarik profil penanammodal nan berbeda, baik untuk properti komersial maupun residensial,” ujar Christine secara virtual belum lama ini.

Alih-alih berfokus pada komparasi pertumbuhan nilai dengan kota lain, Christine menilai Jakarta perlu meningkatkan daya tariknya terhadap foreign direct investment (FDI) atau investasi langsung asing.

Ia mencontohkan sejumlah pasar di area Asia nan menunjukkan performa cukup kuat, seperti Malaysia, India, dan Vietnam. Salah satu aspek nan menopang perkembangan pasar di negara-negara tersebut adalah keahlian menarik investasi asing.

FDI dinilai krusial lantaran bukan hanya membawa modal, tetapi juga dapat mendorong pembangunan prasarana dan ekspansi perusahaan. Kehadiran perusahaan kemudian meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dan talenta di suatu wilayah.

"Pergerakan tersebut pada akhirnya dapat menciptakan pengaruh berantai terhadap sektor properti," kata dia.

Christine menjelaskan, prosesnya dimulai dari masuknya investasi modal, kemudian diikuti ekspansi perusahaan. Perusahaan nan berkembang bakal membawa tenaga kerja serta talenta baru, sehingga populasi dan golongan pekerja di area tersebut meningkat.

Pertumbuhan populasi itu selanjutnya bakal diterjemahkan menjadi peningkatan permintaan terhadap real estat, termasuk sektor residensial.

Dengan sistem tersebut, Christine menilai peluang pertumbuhan nilai kediaman di Jakarta tetap terbuka. Meski demikian, kenaikan nilai tidak bakal terjadi secara instan.

Menurutnya, beragam pasar properti di bumi memerlukan waktu untuk mengembalikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

"Setelah arus modal serta talenta kembali meningkat dan permintaan terhadap kediaman menguat, nilai properti biasanya mulai menunjukkan pertumbuhan," tandas dia. (Gan)

Selengkapnya