Jejak Kumbang Pemakan Bangkai Ditemukan pada Fosil Titanosaurus 70 Juta Tahun

1 jam yang lalu 3
Jejak Kumbang Pemakan Bangkai Ditemukan pada Fosil Titanosaurus 70 Juta Tahun Fosil Titanosaurus 70 Juta Tahun.(Dok. Earth.com)

JEJAK lubang gigitan kumbang pemakan bangkai ditemukan pada tulang dan pelindung kulit (osteoderm) titanosaurus nan berumur 70 juta tahun di situs fosil Lo Hueco, Cuenca, Spanyol. Penemuan ini mengubah pemahaman para intelektual mengenai proses pembentukan salah satu situs fosil Kapur Akhir paling krusial di Eropa tersebut.

Penelitian nan diterbitkan dalam jurnal Earth-Science Reviews ini dipimpin oleh Profesor Zain Belaústegui dari Universitas Barcelona berbareng para mahir dari National University of Distance Education serta entomolog forensik dari Universitas Alcalá. Dilansir dari Earth.com, situs Lo Hueco dikenal sebagai rumah bagi fosil dinosaurus sauropoda titanosaurus nan relatif utuh maupun sisa-sisa tulang nan terisolasi.

Temuan Lubang Bioerosi pada Pelindung Kulit

Tim peneliti sukses mengidentifikasi struktur bioerosi, ialah tanda nan ditinggalkan organisme pada tulang setelah suatu hewan mati. Meskipun tanda seperti ini pernah didokumentasikan pada fosil dinosaurus sebelumnya, studi terbaru ini menemukannya tidak hanya pada tulang biasa, tetapi juga untuk pertama kalinya pada bagian pelindung kulit titanosaurus nan dikenal sebagai osteoderm.

Pelindung kulit titanosaurus merupakan jaringan nan padat dan kaya bakal mineral. Ditemukannya jejak galian serangga pada bagian ini memberikan dimensi baru tentang apa nan dapat diungkap oleh fosil-fosil tersebut.

Lubang-lubang spesifik nan ditemukan berbentuk separuh bola alias kantong, nan tergolong dalam kategori ichnogenus Cubiculum. Perbandingan dengan contoh modern menunjuk secara jelas pada kumbang dermestid sebagai pelakunya. Kumbang pemakan buntang ini mengonsumsi jaringan hewan nan membusuk dan bisa melubangi tulang.

Waktu Pembentukan dan Bantahan Teori Penguburan Cepat

Eksperimen nan dilakukan pada larva kumbang modern Dermestes frischii—yang menghasilkan lubang dengan struktur serupa—menunjukkan bahwa tanda tersebut terbentuk setelah setidaknya 240 jam. Dalam kondisi alam liar, proses ini diperkirakan menyantap waktu nan jauh lebih lama.

Waktu tersebut memberikan petunjuk krusial mengenai apa nan terjadi setelah titanosaurus mati. Kerusakan akibat serangga nan terawetkan pada beragam jenis fosil tulang memberikan petunjuk berbobot tentang gimana sisa-sisa tubuh hewan terurai dan terawetkan setelah kematian.

Sebelumnya, para peneliti menyimpulkan bahwa buntang titanosaurus di Lo Hueco terkubur dengan sigap oleh endapan sedimen nan melindunginya dari gangguan permukaan. Namun, teori tersebut terbantahkan lantaran serangga tidak mungkin melubangi buntang nan sudah tertimbun di dalam tanah.

Bangkai Dinosaurus sebagai Ekosistem Purba

Karena titanosaurus merupakan hewan berukuran sangat besar, buntang mereka menjadi sumber daya melimpah bagi organisme pemakan bangkai. Komunitas pemakan buntang di situs tersebut mempunyai waktu nan cukup untuk mengurai buntang raksasa ini sebelum akhirnya tertimbun sedimen.

Hal ini memicu pertanyaan tentang apakah buntang vertebrata besar dapat menyokong seluruh organisasi pemakan bangkai, baik nekrofag (pemakan jaringan segar) maupun saprofag (pemakan sisa pembusukan), dalam jangka waktu nan relatif lama.

“Jika sisa-sisa rangka memfosil dengan jejak bioerosi, perihal itu bisa sangat sugestif mengenai kondisi lingkungan purba tertentu,” ujar Belaústegui.

Dengan kata lain, ada alias tidaknya galian serangga dalam kumpulan fosil bukan sekadar perihal nan unik, melainkan perangkat pemeriksaan krusial untuk merekonstruksi lingkungan purba nan tidak bisa diungkap oleh bukti lainnya. Penelitian di Lo Hueco ini menjadi sangat krusial lantaran aktivitas kumbang 70 juta tahun lampau meninggalkan rekam jejak nan cukup presisi untuk memperbaiki pemahaman intelektual terhadap sebuah situs fosil secara keseluruhan. (Earth.com/H-3)

Selengkapnya