Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang menemukan potensi besar logam tanah jarang (rare earth) di dasar laut dekat pulau terpencil di Samudra Pasifik. Temuan ini berpotensi mengurangi ketergantungan Negeri Sakura terhadap pasokan logam strategis dari China.
Mengutip Reuters, Jumat (24/7/2026), pemerintah Jepang mengungkap hasil kajian lumpur dasar laut nan diambil dari perairan sekitar Pulau Minamitori. Analisis menunjukkan sekitar 54% kandungan rare earth dalam lumpur tersebut terdiri dari unsur logam tanah jarang kategori menengah dan berat nan berbobot tinggi.
Meski demikian, pemerintah belum mengungkapkan besarnya persediaan nan ditemukan. Alasannya, pengambilan sampel tetap terbatas baik dari sisi letak maupun lama penelitian sehingga datanya belum cukup untuk menghitung total deposit.
Sampel tersebut diambil menggunakan kapal pengeboran ilmiah Chikyu dalam misi selama satu bulan nan selesai pada Februari 2026. Lokasi pengeboran berada sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo, dengan kedalaman sekitar 6 kilometer di bawah permukaan laut.
Misi itu menjadi nan pertama di bumi nan sukses mengangkat lumpur dasar laut nan mengandung logam tanah jarang secara berkepanjangan dari kedalaman ekstrem. Temuan ini datang di saat Jepang berupaya mendiversifikasi sumber mineral kritis setelah China memperketat pembatasan ekspor logam tanah jarang berat dan magnet terkait.
Perlu diketahui rare earth saat ini dianggap bak kekayaan karun baru bumi. Bahan baku tersebut sangat krusial bagi industri pertahanan, kendaraan listrik, hingga semikonduktor.
Dari sekitar 50 ton lumpur nan sukses diangkat, para peneliti menemukan sejumlah unsur berbobot tinggi, seperti yttrium nan digunakan dalam industri kedirgantaraan, energi, dan semikonduktor. Selain itu, ditemukan pula gadolinium nan dimanfaatkan untuk mesin magnetic resonance imaging (MRI) dan beragam perangkat teknologi tinggi, serta dysprosium, unsur krusial dalam pembuatan magnet berkinerja tinggi untuk kendaraan listrik.
Pemerintah Jepang berencana melanjutkan proyek ini dengan uji coba penambangan skala besar pada Februari 2027. Dalam tahap tersebut, Jepang menargetkan bisa mengeruk sekitar 350 ton lumpur per hari dari dasar laut.
Material nan diangkat bakal dikeringkan di Pulau Minamitori sebelum diproses di daratan utama Jepang. Tahapan itu dilakukan untuk menguji teknologi pemisahan, pemurnian, dan peleburan logam tanah jarang.
Manajer proyek dari Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), Kazushige Kikuchi, mengatakan uji coba tersebut bakal menjadi dasar untuk menilai kepantasan produksi logam tanah jarang dalam negeri. Pemerintah menargetkan pertimbangan menyeluruh mengenai potensi industrialisasi proyek ini rampung pada Maret 2028.
Langkah Jepang ini dinilai strategis di tengah meningkatnya persaingan penguasaan mineral kritis dunia. Sejak April 2025, China memberlakukan pembatasan ekspor sejumlah logam tanah jarang berat dan magnet terkait, kemudian memperketat lagi ekspor ke Jepang pada Januari 2026, termasuk terhadap sejumlah konglomerasi besar.
(sef/sef)
Addsource on Google

4 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·