Kantor Purbaya Beberkan Kabar Ekonomi RI: PMI Naik, Inflasi Turun

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke area ekspansif pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. Di saat nan sama, inflasi tahunan juga melandai, meski pemerintah tetap mewaspadai munculnya defisit neraca perdagangan akibat lonjakan impor.

Berdasarkan rilis Kementerian Keuangan, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.

Perbaikan keahlian manufaktur ditopang oleh meningkatnya produksi serta penambahan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. Meski demikian, pemulihan permintaan dinilai tetap berjalan secara berjenjang sehingga penguatan sektor manufaktur tetap memerlukan support daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri, dan keberlanjutan permintaan ekspor.

Kinerja manufaktur Indonesia juga sejalan dengan perbaikan nan terjadi di sejumlah negara mitra jual beli utama. PMI manufaktur Thailand tercatat di level 54,2, Jepang 54,5, Amerika Serikat 53,8, Vietnam 52,9, dan Malaysia 50,7 pada Juli 2026.

Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 8,84% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$25,46 miliar. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas, khususnya komoditas batu bara serta minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya.

Namun, impor tumbuh lebih tinggi, ialah 34,27% (yoy) menjadi US$25,91 miliar. Kenaikan impor terutama berasal dari golongan nonmigas, dengan peningkatan terbesar pada bahan baku/penolong dan peralatan modal.

Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit tipis sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Meski demikian, secara kumulatif Januari-Juni 2026 Indonesia tetap membukukan surplus perdagangan sebesar US$3,58 miliar.

"Defisit neraca perdagangan menjadi sinyal untuk terus mencermati dinamika permintaan dunia dan perkembangan impor, terutama nilai minyak dan gas dunia," tulis Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Sementara itu, tekanan inflasi menunjukkan tren mereda. Inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% (yoy), turun dari 3,34% pada Juni 2026.

Penurunan inflasi terutama dipicu oleh melandainya inflasi golongan nilai bergolak (volatile food). Inflasi volatile food turun menjadi 2,52% (yoy) dari sebelumnya 5,58% seiring melimpahnya pasokan hasil panen hortikultura.

Di sisi lain, DJSEF mengungkapkan inflasi nilai nan diatur pemerintah (administered prices) sedikit meningkat menjadi 3,58% (yoy) dari 3,42% pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh transmisi nilai BBM nonsubsidi dan tarif pikulan udara.

Adapun inflasi inti tercatat stabil di level 2,76% (yoy). Stabilnya inflasi inti mencerminkan permintaan domestik nan tetap terjaga meskipun terdapat tekanan dari kenaikan nilai komoditas dunia dan imported inflation pada beberapa produk, seperti telepon seluler dan pelumas.

DJSEF juga mencatat sejumlah parameter domestik tetap menunjukkan kondisi ekonomi nan solid. Penjualan mobil tumbuh 32,9%, sementara penjualan sepeda motor naik 1,1%.

Konsumsi BBM meningkat 6,5%, dengan konsumsi BBM ritel dan industri masing-masing tumbuh 8,0% dan 8,3%. Penjualan semen domestik juga tumbuh 13,5%, sedangkan penjualan listrik meningkat 10,8%.

Dari sisi sentimen masyarakat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) memperkuat di level optimistis 117,8. Angka tersebut ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 109,2 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 126,4.

"Pemerintah menegaskan bakal terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan nan responsif dan terukur," tulis DJSEF.

Adapun, konsentrasi kebijakan diarahkan pada pengendalian inflasi, penguatan daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri manufaktur, serta menjaga keahlian perdagangan dan investasi di tengah ketidakpastian dunia nan tetap tinggi.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya