Kegagalan Operasi Mossad Gulingkan Rezim Iran lewat Ahmadinejad dan Kurdi

2 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX
Kegagalan Operasi Mossad Gulingkan Rezim Iran lewat Ahmadinejad dan Kurdi Mahmoud Ahmadinejad.(Al Jazeera)

SUATU bandara internasional di bagian bumi lain menjadi saksi bisu pendaratan tim pemasok Mossad. Saat mengaktifkan ponsel, mereka disambut berita mengerikan: ratusan orang tewas di wilayah perbatasan Gaza, sejumlah penduduk Israel disandera, dan seluruh area dikuasai Hamas. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan keteguhan misi utama mereka: merekrut Mahmoud Ahmadinejad, mantan presiden Iran sekaligus salah satu musuh terbesar Israel, untuk bekerja sama dengan Mossad.

Hubungan nan tak terbayangkan ini sebenarnya mulai terbentuk setahun sebelumnya. Mossad mengumpulkan intelijen nan menunjukkan perubahan mengejutkan pada pandangan Ahmadinejad. Sosok nan dulu dikenal sebagai penyangkal Holocaust dan menyebut Israel sebagai entitas setan, perlahan muncul sebagai kritikus vokal rezim ayatollah setelah meninggalkan kedudukan pada 2013.

Ambisi di Tengah Perang

Pejabat Israel meletakkan perhatian unik pada kepercayaan Ahmadinejad bahwa Iran tidak bakal memperkuat di bawah hukuman internasional dan program nuklirnya menjadi beban. Direktur Mossad, David Barnea, secara pribadi mengawasi operasi ini. Pada awal 2026, Ahmadinejad muncul sebagai aset paling berbobot Israel dalam rencana penggulingan rezim Teheran nan diberi kode Operasi Puss in Boots.

Rencana ambisius ini mencakup beberapa komponen strategis:

  • Operasi pengaruh di dalam wilayah Iran.
  • Program mempersenjatai dan melatih pasukan Kurdi di Irak.
  • Aktivasi golongan minoritas untuk mendestabilisasi rezim.
  • Rencana Angkatan Udara untuk membangun koridor darat bagi pergerakan milisi.

Catatan Kritis: Meskipun ambisius, rencana ini memicu perpecahan internal nan tajam di militer Israel. Direktur Intelijen Militer, Mayjen Shlomi Binder, dan Penasihat Keamanan Nasional, Tzachi Hanegbi, meragukan keberhasilan operasi ini dan menyebutnya sebagai khayalan liar.

Inspirasi dari Suriah

Keberhasilan pemberontak Suriah menggulingkan Bashar al-Assad pada akhir 2024 menjadi inspirasi bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia mendesak Mossad untuk meniru model tersebut dengan mengerahkan boots on the ground melalui milisi Kurdi. Namun, para mahir keamanan memperingatkan bahwa membandingkan Suriah nan hancur dengan Iran--kekuatan ekonomi berpenduduk 90 juta jiwa--ialah corak kehilangan kontak dengan realitas.

Mossad tetap bergerak, memetakan golongan Kurdi dan melatih sekitar 16.000 pejuang di Irak dengan senjata nan disita dari Hizbullah. Rencananya, pasukan ini bakal menyerbu Iran barat di bawah perlindungan serangan udara Israel, merebut kota-kota seperti Kermanshah dan Marivan, lampau memicu pemberontakan massal nan bakal menempatkan Ahmadinejad sebagai pemimpin baru.

Veto dari Washington

Pada Februari 2026, Netanyahu membawa rencana ini ke Gedung Putih. Meski Presiden Donald Trump awalnya tampak tertarik, para penasihatnya memberikan reaksi keras. Wakil Presiden JD Vance skeptis, sementara Direktur CIA John Ratcliffe menyebut rencana itu sebagai lelucon.

Trump akhirnya memutuskan untuk tidak memberikan lampu hijau bagi keterlibatan Kurdi. Tanpa support definitif Amerika Serikat, milisi Kurdi menolak untuk bergerak. Mereka tidak mau menjadi sasaran empuk setelah pengalaman pahit dikhianati oleh Washington di masa lalu.

Runtuhnya Kartu Domino

Ketika serangan udara campuran Israel-AS akhirnya diluncurkan pada Maret 2026, serangan tersebut sukses melumpuhkan banyak sasaran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Namun, komponen kunci dari rencana Mossad--invasi Kurdi dan pemberontakan minoritas--sama sekali tidak terjadi.

Upaya terakhir Mossad untuk memicu protes selama pagelaran Chaharshanbe Suri pada April 2026 juga ditolak oleh Intelijen Militer lantaran dianggap terlalu berisiko dan tidak realistis. Mimpi untuk menempatkan Ahmadinejad di tampuk kekuasaan pun menguap begitu saja.

Faktor Kegagalan Detail
Veto Politik AS Trump melarang keterlibatan Kurdi setelah tekanan dari Turki (Erdogan).
Ketidakpastian Milisi Kurdi menolak bergerak tanpa agunan perlindungan penuh dari AS.
Hubris Kepemimpinan Netanyahu dan Barnea mengabaikan peringatan intelijen militer tentang akibat kegagalan.

Epilog: Kegagalan Strategis

Investigasi terhadap lebih dari 30 sumber senior mengungkapkan bahwa Operasi Puss in Boots adalah kegagalan besar Mossad. Mantan Direktur Mossad, Tamir Pardo, menegaskan bahwa rencana perubahan rezim memerlukan waktu setidaknya satu dekade, bukan beberapa bulan. "Siapa pun nan mengatakan mereka bisa meruntuhkan rezim dalam waktu singkat, mereka tidak tahu apa nan mereka bicarakan," ujarnya.

Kini, Israel kudu menghadapi realita bahwa meskipun serangan udara sukses memberikan kerusakan, rezim Iran mungkin bakal tetap memperkuat dan apalagi menjadi lebih kuat jika hukuman internasional mulai melonggar. Ambisi Netanyahu untuk mengubah peta politik Timur Tengah melalui operasi rahasia ini berhujung menjadi narasi kemenangan bagi Teheran. (Haaretz/I-2)

Selengkapnya