Kehati Indonesia: Badak Jawa Sisa 79 Ekor 

4 hari yang lalu 10
 Badak Jawa Sisa 79 Ekor  Petugas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) melangkah di area rimba nan dipangkas di area Resort Karang Ranjang, TNUK, Pandeglang, Banten, Selasa (24/5/2022). Pemangkasan rimba tersebut dilakukan untuk pembuatan jalur bagi petugas TNUK dalam memonitor pe(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz)

PEMERINTAH merilis status keanekaragaman hayati di wilayah Bali-Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua. Hasil penelitian nan mutakhir tersebut merupakan prasyarat bagi penyusunan kebijakan nan adaptif, terukur, dan efektif.

Dokumen status keanekaragaman hayati menyediakan dasar ilmiah untuk mendukung perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, dan pengambilan keputusan berbasis bukti, sekaligus memperkuat penerapan IBSAP 2025–2045 sebagai peta jalan pengelolaan keanekaragaman hayati menuju Indonesia Emas 2045.

Direktur Lingkungan Hidup di Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi, mengatakan info Keanekaragaman Hayati dapat memperkuat perencanaan kewilayahan pada RPJMN, agar pengembangan kewilayahan didasarkan pada potensi keanekaragaman hayati lokal nan dimiliki. Data ini juga dapat dimanfaatkan dalam penyusunan RTRW dan memberikan pedoman nan komprehensif dalam menyusun kegunaan ruang.

"Data keanekaragaman hayati dapat diintegrasikan pada penyusunan kajian lingkungan hidup strategis, rencana pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup, profil keanekaragaman hayati wilayah nan bakal menjadi modalitas dalam rencana induk pengelolaan keanekaragaman hayati daerah," kata Nizhar dalam media gathering di Jakarta, Jumat (17/7).

Selain diwarnai kekayaan nan tinggi. Hasil penelitian tersebut juga menemukan bahwa keanekaragaman hayati di wilayah Bali–Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua juga dibayangi ancaman lingkungan nan signifikan.

Di kesempatan nan sama, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andes Hamuraby Rozak mengungkapkan ada beragam tantangan di setiap wilayah. Seperti di Pulau Jawa, adanya penurunan muka tanah terutama di Jakarta dan banjir rob (pantura). Alih kegunaan lahan tercepat, tol Trans-Jawa, urban sprawl, dan tambang pasir Merapi. 

"Termasuk perdagangan satwa, overtourism, dan zoonosis itu juga menjadi tantangan nan serius," ucapnya.

Kemudian di Bali–Nusa Tenggara ancaman deforestasi rimba primer di Bali/NTB dan sekunder (NTT) tetap menghantui. Selain itu, terjadinya pariwisata massal dan sampah plastik laut, tambang emas terlarangan dan perdagangan penyu. Spesies invasif savana, rabies, dan antraks juga tetap ditemui di wilayah tersebut.

"Di wilayah Maluku adanya ekspansi tambang nikel, wilayah gunung nan gundul, perdagangan burung paruh bengkok, perubahan iklim, overfishing, tanaman invasif, polusi, limbah alih fungsi," jelas dia.

Di Papua deforestasi dan alih kegunaan HTI, sawit, jalan, tambang tetap ditemui. Sebanyak 64 tanaman dan 23 vertebrata berstatus kritis, pemutihan karang (Waigeo) dan polusi pesisir, serta tetap adanya jalan membuka akses perburuan satwa.

Berdasarkan status keanekaragaman hayati. Jawa merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati krusial di Indonesia dengan sedikitnya 12.819 jenis tanaman terestrial, terdiri atas 9.493 jenis tumbuhan berbiji (Angiospermae), 3.266 jenis tumbuhan berspora, serta 601 jenis tumbuhan berbiji endemik. Letaknya pada area Paparan Sunda nan dipengaruhi dinamika pengetahuan bumi Ring of Fire menjadikan Jawa sebagai salah satu pusat endemisitas dan perkembangan flora-fauna di Indonesia. 

Badak Jawa

Wilayah ini juga mempunyai ekosistem pesisir dan laut nan kaya dengan 11 jenis lamun, 493 jenis karang di Laut Utara Jawa, dan 400 jenis karang di Laut Selatan Jawa. Jawa menjadi kediaman beragam jenis ikonik, termasuk badak jawa (Rhinoceros sondaicus) nan sekarang hanya tersisa sekitar 79 perseorangan di Taman Nasional Ujung Kulon serta elang jawa (Nisaetus bartelsi) nan diperkirakan berpopulasi sekitar 511 pasang, nan mencerminkan tingginya nilai ekologis Jawa sekaligus pentingnya upaya konservasi dan penelitian keanekaragaman hayati untuk menjaga keberlanjutan kegunaan ekosistem Indonesia.

Bali-Nusa Tenggara Sebagai bagian dari area Wallacea, mempunyai sedikitnya 3.459 jenis flora, 560 jenis burung, 137 jenis mamalia, 76 jenis reptil, 868 jenis ikan laut, serta beragam golongan biota lainnya, termasuk 1.202 jenis moluska, 328 krustasea, dan 323 cnidaria. 

Kawasan ini mempunyai tingkat endemisitas spermatofit mencapai 55%, tertinggi dibandingkan wilayah lain seperti Jawa dan Papua, serta menjadi kediaman beragam jenis ikonik seperti komodo, jalak bali, dan rusa timor. Sebagai wilayah transisi biogeografi antara Asia dan Australasia, Bali–Nusa Tenggara merupakan salah satu pusat evolusi, spesiasi, dan endemisitas terpenting di Indonesia nan mempunyai nilai strategis bagi konservasi dan pembangunan berkelanjutan. 

Maluku, nan terdiri atas sekitar 2.397 pulau (+1.422 pulau di Provinsi Maluku dan +975 pulau di Provinsi Maluku Utara), merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di Indonesia. Berada di antara Garis Wallace dan Garis Weber, area ini menjadi wilayah transisi biogeografi nan unik dengan perpaduan tanaman dan hewan Asia–Australasia, sekaligus merupakan bagian dari Coral Triangle, pusat 
keanekaragaman hayati laut dunia. 

Maluku tercatat mempunyai 4.383 jenis tumbuhan, termasuk 17 jenis tumbuhan berbiji baru nan ditemukan dalam satu dasawarsa terakhir, 437 jenis burung dengan 126 jenis endemik, serta 564 jenis karang pembentuk terumbu alias sekitar 67,9% dari total jenis karang dunia. 

Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut menjadikan Maluku sebagai kediaman beragam jenis endemik dan ikonik, termasuk kakatua Maluku (Cacatua moluccensis), sekaligus sebagai area strategis bagi konservasi, pengembangan pengetahuan pengetahuan, dan pengelolaan keanekaragaman hayati kepulauan nan berkelanjutan. 

Papua merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di bumi dengan tingkat endemisitas nan sangat tinggi. Wilayah ini telah teridentifikasi mempunyai sedikitnya 7.994 jenis tumbuhan dan jamur makro serta 7.179 jenis fauna, termasuk 703 jenis burung, 250 jenis mamalia, 413 jenis reptil, 151 jenis amfibi, 444 jenis ikan air tawar, dan 5.062 jenis serangga, dengan 577 jenis hewan endemik. 

Kekayaan ekosistem daratan, perairan tawar, pesisir, dan laut menjadikan Papua sebagai kediaman beragam jenis ikonik dan endemik nan menempatkannya sebagai salah satu area prioritas konservasi keanekaragaman hayati di tingkat nasional maupun global. (H-4)

Selengkapnya