Keluarga WNI Asal Maros yang Tewas di Armenia Desak Pemulangan Jenazah dan Proses Hukum Pelaku

19 jam yang lalu 3
Keluarga WNI Asal Maros nan Tewas di Armenia Desak Pemulangan Jenazah dan Proses Hukum Pelaku Valenth Alexi Tamboto (kanan).(Mi/Lina Herlina)

KELUARGA Valenth Alexie Tamboto, 24, WNI asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, nan ditemukan tewas di Yerevan, Armenia, mendesak pemerintah mempercepat pemulangan jenazah. Korban diduga dibunuh rekan kerja sesama WNI dengan tangan, kaki, dan mulut terikat lakban.

Keluarga besar Valenth hingga kini, tetap menunggu kepastian pemulangan jenazah setelah putra sulung mereka ditemukan meninggal bumi di bilik mess perusahaan tempatnya bekerja di Kota Yerevan, Republik Armenia.

Kasus kematian Valenth viral di media sosial dan diduga kuat merupakan tindak pembunuhan nan dilakukan oleh rekan kerjanya sesama WNI. Adik korban, Arnold Laurenc Tamboto, mengungkapkan bahwa pihak family menerima info dari rekan kerja Valenth di Armenia.

Peristiwa itu terungkap setelah Valenth tidak dapat dihubungi dan tidak keluar dari bilik saat hari liburnya. Rekan-rekan nan berprasangka kemudian membuka bilik menggunakan kunci persediaan dan menemukan korban sudah meninggal dunia. Keluarga mengaku menerima laporan bahwa saat ditemukan, tangan dan kaki korban terikat lakban, serta mulut dan lehernya juga dilakban.

Hingga saat ini, dugaan motif kasus tersebut tetap dalam penyelidikan otoritas Armenia. Arnold menambahkan, sang kakak tidak pernah menceritakan adanya masalah di tempat kerja. Namun, sebelum kejadian, korban sempat mengutarakan keinginannya untuk pulang ke Indonesia.

"Dia tidak pernah cerita jika ada masalah di lingkungan kerjanya. Dia hanya bilang mau pulang ke Indonesia. Kami berambisi pemerintah bisa membantu mempercepat pemulangan jenazah agar family dapat berjumpa untuk terakhir kalinya," ujar Arnold.

Valenth diketahui baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia sebagai staf marketing IT konsultan. Almarhum merupakan anak pertama dari tiga berkerabat dan menjadi tulang punggung keluarga.

Keluarga juga menduga kasus tersebut berangkaian dengan penolakan korban untuk terlibat dalam dugaan penyalahgunaan biaya perusahaan. Meski demikian, dugaan itu tetap menunggu hasil penyelidikan resmi dari otoritas Armenia. Hingga kini, family tetap menunggu info resmi dari KBRI mengenai proses pemulangan jenazah.

Di tengah suasana duka, family inti dan kerabat tetap berkumpul di rumah adik almarhum di Kota Makassar sembari menanti berita terbaru. Mereka berambisi jenazah Valenth dapat segera dipulangkan ke Indonesia untuk dimakamkan secara layak serta para pelaku diproses sesuai norma nan berlaku. (LN/E-4)

Selengkapnya