ARTICLE AD BOX
loading...
Guru Besar Pekerjaan Sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Dr. Adi Fahrudin salah seorang penulis kitab Digital Social Work Across Africa and Asia: A Decolonial Framework for the Future of the Global South. . Foto/istimewa
JAKARTA - Perkembangan kepintaran buatan, identitas digital, biometrik, serta sistem pelayanan publik berbasis algoritma membawa kesempatan sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Hal ini tentu memengaruhi pengembangan kompetensi pekerja sosial di Indonesia.
Atas dasar itu, UI Publishing alias Penerbit Universitas Indonesia menerbitkan kitab Digital Social Work Across Africa and Asia: A Decolonial Framework for the Future of the Global South. Buku karya Siddhartha Paul Tiwari, Prof. Dr. Adi Fahrudin, dan Dr. Fentiny Nugroho ini menawarkan perspektif baru mengenai transformasi digital dalam pelayanan sosial di negara-negara berkembang.
Tidak hanya itu, kitab ini juga menjadi salah satu publikasi pertama nan membahas digital social work dengan pendekatan dekolonial nan mengintegrasikan pengalaman Afrika dan Asia dalam satu kerangka konseptual.
Baca juga: Menkomdigi: Platform Digital Wajib Patuh Hukum Indonesia dan Lindungi Pengguna
Buku ini juga memperkenalkan sejumlah konsep baru, antara lain Communal Digital Safeguarding, Shared Screen Dilemma, dan Asia-African Digital Justice Framework, nan dikembangkan berasas dinamika sosial di negara-negara Global South.
Menurut penulis, transformasi digital tidak hanya berangkaian dengan efisiensi pelayanan, tetapi juga menyangkut perlindungan info pribadi, kesenjangan akses digital, transparansi algoritma, serta kewenangan masyarakat terhadap jasa publik nan adil.
Melalui konsep tersebut, para penulis menekankan bahwa kebijakan digital tidak dapat sepenuhnya mengangkat model negara-negara maju tanpa mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan prasarana lokal.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·