Kepala BMKG Ingatkan Bahaya El Nino, Pernah Bikin Inflasi "Meledak"

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kejadian El Nino tidak hanya berakibat pada cuaca, tetapi juga dapat memicu tekanan inflasi melalui gangguan terhadap sektor pangan, sumber daya air, energi, hingga kebakaran rimba dan lahan (karhutla).

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, El Nino nan terjadi tahun ini telah memasuki kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan membikin musim tandus menjadi lebih kering dan lebih panjang sehingga meningkatkan akibat terhadap beragam sektor.

"(El Nino) tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian, tapi juga pada penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran rimba dan lahan, energi, kesehatan, kelautan, hingga ekonomi masyarakat," kata Faisal dalam paparannya di aktivitas Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, akibat El Nino terhadap sektor pangan berpotensi menurunkan produksi akibat terganggunya almanak tanam. Sementara di sektor sumber daya air, kesiapan air baku dapat menurun, kapabilitas waduk berkurang, hingga jaringan irigasi terganggu.

"Kemudian untuk sektor pangan risikonya penurunan produksi dan gangguan almanak tanam. Untuk sektor sumber daya air, kesiapan air baku menurun, kapabilitas waduk berkurang dan jaringan irigasi terganggu. Jadi kita sudah saat ini sedang melakukan operasi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di Pulau Jawa," ujarnya.

BMKG juga mengingatkan akibat El Nino terhadap inflasi pernah terjadi pada sejumlah periode sebelumnya. Berdasarkan catatan BMKG, saat El Nino sangat kuat pada 2015, kebakaran rimba dan lahan mencapai sekitar 2,4 juta hektare dan inflasi berada di kisaran 6%-7%.

Sementara pada El Nino 2019, luas karhutla turun menjadi sekitar separuh dari 2015, dengan inflasi tercatat sebesar 2,72%. Adapun pada El Nino kuat 2023, kebakaran rimba tetap melampaui 1 juta hektare, sedangkan inflasi berada di level sekitar 1,8%.

"Kita lihat bahwa pada saat tahun 2015, karhutla nan terjadi adalah 2,4 juta hektar dan juga terjadi inflasi 6%-7%. Kemudian ketika di tahun 2019 karhutlanya berkurang sampai separuh lebih ya, kemudian inflasi 2,72%, dan El Nino kuat di 2023 kebakaran rimba tetap terjadi lebih dari 1 juta hektar dan inflasi terjadi walaupun lebih rendah 1,8%," jelas dia.

Menurutnya, pemerintah sekarang menerapkan pendekatan nan berbeda dibandingkan saat menghadapi El Nino pada 2015. Jika sebelumnya penanganan lebih berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, sekarang upaya pencegahan dilakukan lebih awal melalui operasi modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan lahan gambut.

"Kalau dulu kita hanya menunggu terbakar kemudian kita padamkan, tapi sekarang kita coba sebelum terbakar. Kementerian Lingkungan Hidup mempunyai info perubahan muka air di tanah gambut. Kalau kurang dari 1 meter maka BMKG bekerja sama dengan BNPB itu melakukan operasi modifikasi cuaca ya untuk meningkatkan muka air, menjenuhkan tanah sehingga lebih susah untuk terbakar," katanya.

Selain itu, BMKG berbareng Kementerian Pekerjaan Umum juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi waduk-waduk nan mengalami kekeringan guna menjaga pasokan air baku, irigasi, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Faisal menegaskan, pemerintah telah mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi El Nino jauh sebelum rapat terbatas nan dipimpin Presiden Prabowo Subianto digelar pekan lalu.

"Jadi di sini untuk meluruskan, persiapan kita bukan dimulai sejak rapat minggu lampau nan dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, itu adalah kelanjutan dari koordinasi nan telah dilaksanakan sejak berbulan-bulan nan lalu," pungkasnya.

 Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG)Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG) Foto: Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG)

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya