Ketua Komite III DPD RI Dorong Pemerintah Perhatikan Dosen Swasta di Daerah 3T

20 jam yang lalu 2

loading...

Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma mendukung upaya asosiasi pengajar memperjuangkan kesejahteraan dosen. Foto/istimewa

JAKARTA - Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma mendukung upaya asosiasi pengajar memperjuangkan kesejahteraan dosen. Terutama pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

“Kami di Komite III memberi apresiasi atas inisiatif asosiasi dosen, baik melalui upaya diplomasi kelembagaan maupun sistem peradilan. Gaji nan merupakan kewenangan ini menjadi bagian dari penopang kesejahteraan sekaligus penghargaan bagi tenaga akademik profesional. Maka kami menyatakan support prinsipil terhadap upaya peningkatan penghargaan bagi kedudukan akademik alias pekerjaan ini,” ujarnya, Rabh (29/7/2026).

Filep menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan nan seimbang baik bagi pengajar negeri maupun pengajar swasta sebagaimana dedikasi dan pengabdiannya bagi bumi akademik. Oleh lantaran itu, perlu adanya inventarisasi masalah agar pengajar di bawah pengelola swasta juga mendapatkan perhatian nan setara.

Baca juga: Apakah Dosen di Indonesia Sudah Sejahtera? Ini Hasil Surveinya

“Kesejahteraan pengajar swasta perlu mendapat perhatian dari pemerintah, sehingga tenaga pendidik di mana pun posisinya merasa didukung baik secara moral maupun kebijakan dalam menjalankan tugas pengajaran di perguruan tinggi,” ujarnya.

Tak hanya itu, senator Filep Wamafma juga menyoroti perihal tantangan nan dihadapi perguruan tinggi swasta, terutama nan berada di wilayah 3T. Di antaranya, ketimpangan regional dan akibat pada keahlian pembayaran UKT serta hambatan akses mahasiswa.

Lihat video: Dosen S3 Digaji Rp2,6 Juta, Kesejahteraan Dosen di Indonesia Dipertanyakan!

“Perkembangan biaya hidup dan keahlian pembayaran dari mahasiswa berbeda antara Jabodetabek dan wilayah lain, terutama 3T. Jadi, kenaikan UKT seperti di Jabodetabek susah direplikasi di wilayah 3T lantaran keahlian ekonomi mahasiswa lebih rendah. Akibatnya muncul akibat drop out dan stagnasi perkembangan perguruan tinggi negeri dan swasta di wilayah 3T. Tentu ini jadi perhatian kita bersama,” katanya.

Selengkapnya