Ketua Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah buka bunyi mengenai pusat perbelanjaan nan sempat memasang pagar tinggi beberapa waktu lalu.(MI/Naufal Zuhdi)
KETUA Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah buka bunyi mengenai pusat perbelanjaan nan sempat memasang pagar tinggi beberapa waktu lalu.
Budihardjo menegaskan bahwa sejauh ini pemasangan pagar tersebut bermaksud untuk mengatur trafik kenyamanan konsumen dari pusat perbelanjaan tersebut.
“Ya lantaran nan masang (pagar) kan sebenarnya hanya satu grup ya, jadi bukan semua malnya. Jadi intinya hanya mungkin dari grup mal tersebut mengatur trafik untuk kenyamanan konsumen ya, jadi biar konsumen itu tidak masuk dari mana-mana alias mungkin ya parkir-parkir gitu, jadi mungkin mau diatur lantaran kan (posisinya) di jalan raya. Jadi jika kami memandang sih ya kita bikin situasi kudu bagus lah,” kata Budihardjo saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Jakarta, Kamis (6/8).
Dirinya menambahkan bahwa saat ini pusat perbelanjaan juga tetap terbuka seperti biasanya, apalagi tetap menggelar aktivitas terutama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov).
“Kita kudu buat konsumen ataupun masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Apalagi ada agunan dari Pak Gubernur apa seperti itu kan, jadi tidak ada apa-apa,” terang dia.
Sebelumnya, dua pemilik jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, James Riady dari Lippo Group dan Alexander Tedja dari Pakuwon Group, menegaskan kondisi keamanan nasional tetap kondusif, sehingga tidak ada kebutuhan memasang pagar pembatas di mal. Mereka menyatakan, pemasangan pagar di beberapa pusat perbelanjaan merupakan inisiatif manajemen lokal dan bukan kebijakan perusahaan.
Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia sekaligus Chairman Lippo Group, James T. Riady, menilai tidak ada argumen bagi masyarakat untuk merasa resah terhadap kondisi sosial maupun ekonomi. Menurut dia, pemerintah sukses menjaga daya beli masyarakat melalui beragam kebijakan strategis, antara lain mempertahankan nilai BBM bersubsidi, tarif listrik rumah tangga bersubsidi, dan nilai LPG 3 kilogram di tengah lonjakan nilai daya bumi akibat bentrok geopolitik. (E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·