Vini, pemilik upaya Kue Sarmut.(Dok spesial )
DI kembali kesuksesan Riva Cake nan sekarang dikenal dengan produk unggulannya, Kue Sarmut berbahan dasar talas, tersimpan perjalanan panjang penuh jatuh bangun nan dialami pemiliknya, Vini. Perempuan asal Cigombong, Kabupaten Bogor itu mengaku tidak mempunyai latar belakang pendidikan tata boga.
Ia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Perhotelan NHI Bandung tahun 1994 dengan bidang Room Division dan sempat berkarier di sejumlah hotel sebagai supervisor housekeeping. Namun rutinitas pekerjaan nan dijalani selama bertahun-tahun membuatnya memutuskan mencari jalan baru. Pada 2010, Vini mulai menekuni upaya roti burger setelah memandang kesempatan pasar di lingkungan pesantren di wilayah Sukabumi.
"Dulu saya produksi roti burger untuk pesantren-pesantren dari Cigombong sampai Cibadak. Produksinya bisa mencapai 800 roti per hari," ujarnya.
Keberhasilan upaya tersebut membuatnya semakin percaya mengembangkan upaya kuliner. Pada 2014, modal sekitar Rp100 juta hasil upaya burger digunakan untuk menyewa ruko dan membangun upaya bakery. Namun langkah tersebut justru menjadi awal masa susah dalam hidupnya. Tanpa bekal pengetahuan upaya nan memadai, upaya bakery nan dibangun tidak melangkah sesuai harapan.
Vini mengaku saat itu belum memahami pentingnya riset pasar dan strategi usaha. Produk bakery nan ditawarkan rupanya kurang sesuai dengan karakter konsumen di wilayah Cigombong. Dalam waktu sekitar satu tahun, modal upaya habis.
Untuk mempertahankan usaha, dia apalagi mengagunkan mobil pribadi. Namun lantaran kondisi finansial terus memburuk, kendaraan tersebut akhirnya disita pihak leasing. Situasi itu membikin dirinya dan sang suami memutuskan meninggalkan Bogor dan mencoba peruntungan baru di Palembang.
"Kami berangkat hanya membawa satu mesin giling mie. Peralatan bakery nan lain ditinggalkan lantaran tidak punya biaya untuk mengangkutnya," kenangnya.
Di Palembang, pasangan tersebut membuka upaya mie ayam. Usaha itu sempat berkembang dan menarik minat calon mitra. Namun ujian kembali datang ketika adik bungsu Vini meninggal bumi sehingga dia kudu pulang ke Bogor untuk merawat ibunya.
Usaha mie ayam nan dirintis di Palembang akhirnya berakhir beroperasi. Titik kembali kehidupan Vini datang saat mendapat rayuan dari ketua RT setempat untuk mengikuti pagelaran Ramadan.
Awalnya dia kembali mencoba menjual burger, namun tidak mendapat respons pasar. Vini kemudian beranjak menjual kue sus, risoles, dan lemper dalam jumlah terbatas. Di luar dugaan, seluruh dagangan lenyap terjual sebelum waktu berbuka puasa.
Keberhasilan mini tersebut menjadi pemantik semangat baru. Ia mulai menambah ragam produk kue basah dan menerima pesanan dari instansi maupun sekolah di sekitar tempat tinggalnya. Meski tetap trauma membuka toko fisik, Vini memberanikan diri berdagang menggunakan etalase sederhana di area parkir sebuah ruko. Dari tempat itulah upaya nan sekarang dikenal sebagai Riva Cake mulai berkembang.
Kue Sarmut Berbahan Talas
Perjalanan upaya Vini memasuki babak baru setelah berasosiasi dengan organisasi UMKM dan mengikuti beragam pelatihan. Salah satunya training nan digelar Yayasan Indoensia Setara (YIS).
Dalam program Desa Emas itu, dia menyadari pentingnya mempunyai produk unik nan dapat menjadi identitas usaha. Kesempatan itu datang ketika mengikuti program pangan lokal nan mendorong pemanfaatan talas, komoditas unggulan Bogor.
Berbagai percobaan dilakukan untuk mengolah tepung talas menjadi produk nan mempunyai cita rasa berbeda. Setelah melalui proses nan panjang, Vini menemukan formulasi nan cocok dengan mengombinasikan tepung talas dan kue karamel sarang semut. Produk tersebut kemudian diberi nama Kue Sarmut.
Awalnya, produk ini kurang mendapat perhatian lantaran dianggap sebagai kue tradisional biasa. Namun melalui strategi pembagian sampel kepada pelanggan, Kue Sarmut mulai dikenal dan diterima pasar. Kini produk tersebut menjadi salah satu oleh-oleh unik Cigombong dan dijual sekitar Rp60.000 per boks.
Berkat konsistensinya mengembangkan produk berbasis talas, Vini beberapa kali dipercaya mewakili Kabupaten Bogor dalam pameran tingkat nasional nan diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Saat ini, kapabilitas produksi Riva Cake mencakup sekitar 20 jenis kue basah, lapis talas, serta Kue Sarmut nan bisa diproduksi hingga puluhan boks setiap hari.
Tidak hanya konsentrasi mengembangkan upaya sendiri, Vini juga membangun organisasi Riva Baking Class (RBC) nan menjadi wadah berbagi pengetahuan bagi pelaku upaya kuliner. Komunitas nan dirintis sekitar lima tahun lampau itu sekarang mempunyai lebih dari 120 personil nan berasal dari Bogor, Tangerang, hingga Jakarta.
Melalui kelas tersebut, peserta belajar membikin beragam produk makanan, mulai dari roti, bagelan, dimsum, hingga produk frozen food. Beberapa personil apalagi sukses mengembangkan upaya sendiri setelah mengikuti training tersebut. Bagi Vini, keberhasilan tidak hanya diukur dari perkembangan upaya nan dijalankan, tetapi juga dari keahlian membantu orang lain berkembang.
"Saya merasa sukses jika saya bisa membikin orang lain sukses," ujarnya.
Kunci dari Keberhasilan Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, menilai perjalanan Vini menjadi contoh nyata bahwa pelaku UMKM dapat bangkit dari keterpurukan ketika mendapatkan pendampingan nan tepat, kemauan belajar, dan keberanian untuk terus berinovasi.
Menurutnya, Program Desa Emas memang dirancang untuk membantu pelaku upaya mengembangkan potensi lokal menjadi produk berbobot tambah sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui program tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan training teknis, tetapi juga pendampingan dalam manajemen usaha, pemasaran, pengembangan produk, hingga ekspansi jejaring bisnis.
"Yang kita kejar adalah akibat sosial dan pertumbuhan bersama. Dari upaya mini nan naik kelas, bakal lahir kesempatan kerja baru di masyarakat," kata Sandiaga Uno.
Dirinya menyebut sosok Vini menunjukkan gimana pelaku upaya nan sempat mengalami kegagalan dapat bangkit kembali melalui penemuan dan pemanfaatan potensi daerah.
Produk Kue Sarmut berbahan dasar talas nan dikembangkan Vini dinilai sejalan dengan semangat Desa Emas nan mendorong lahirnya produk unggulan berbasis sumber daya lokal.
"Program ini bermaksud memberdayakan pelaku upaya melalui pengembangan produk unggulan berbasis potensi lokal. Dengan support pendampingan dan partisipasi aktif masyarakat, UMKM dapat menjadi motor kemandirian ekonomi daerah," ujar Sandiaga.
Ia menambahkan, keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari peningkatan omzet, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja dan memberikan faedah bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, kisah Vini nan sekarang membina pelaku upaya melalui organisasi Riva Baking Class menjadi contoh multiplier effect nan mau diwujudkan dalam setiap program pemberdayaan UMKM. Kepada para pelaku UMKM, Sandiaga berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan usaha. Menurutnya, tantangan merupakan bagian dari proses membangun upaya nan berkelanjutan.
"Jangan takut memulai dan jangan takut gagal. Terus belajar, berinovasi, manfaatkan potensi lokal, serta bangun jejaring dan kolaborasi. UMKM nan mau beradaptasi dan meningkatkan kapabilitas diri bakal mempunyai kesempatan lebih besar untuk naik kelas," ujarnya. (E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·