ARTICLE AD BOX
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau demplot pisang Edo Farm di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.(Antara)
MENTERI Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pengembangan komoditas unggulan sesuai potensi wilayah dapat memperkuat swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Arahan Presiden sangat jelas, ialah mewujudkan swasembada pangan. Beras tentu tetap menjadi komoditas utama, tetapi Indonesia juga mempunyai banyak komoditas pangan lain nan potensinya sangat besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Iftitah dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa (14/7).
Pernyataan tersebut disampaikan Mentrans saat meninjau demplot pisang Edo Farm di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sebagai salah satu contoh pengembangan komoditas pisang berbobot ekonomi tinggi.
Menurut Iftitah, upaya mewujudkan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga keahlian menciptakan nilai tambah dari komoditas pertanian sehingga faedah ekonominya dapat dirasakan petani.
"Ketahanan pangan kudu melangkah beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak bakal berkelanjutan," ujarnya.
Ia menilai pisang menjadi salah satu komoditas nan mempunyai prospek untuk dikembangkan lantaran permintaan pasar domestik maupun internasional terus meningkat, sementara potensi budidayanya tersebar di beragam wilayah Indonesia, termasuk area transmigrasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi pisang nasional pada 2025 mencapai sekitar 9,82 juta ton, meningkat sekitar 6,02% dibandingkan produksi 2024 nan mencapai sekitar 9,26 juta ton. Pisang menjadi komoditas buah dengan produksi terbesar di Indonesia.
Menurut Iftitah, besarnya potensi produksi tersebut perlu diikuti pembangunan ekosistem upaya agar memberikan nilai tambah nan lebih besar bagi petani dan masyarakat.
Menurut dia, pengembangan komoditas unggulan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga perlu didukung penguatan kelembagaan petani melalui koperasi, pengolahan hasil, penyimpanan, logistik, hingga kepastian pasar melalui kemitraan dengan off-taker.
"Kita mau petani tidak hanya bisa menghasilkan produk nan berkualitas, tetapi juga mempunyai kepastian pasar. Ketika pasar terbuka, nilai menjadi lebih baik, investasi ikut bergerak, pendapatan petani meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat," ungkap dia.
Pengembangan komoditas unggulan juga menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun area transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
POTENSI KOMODITAS UNGGULAN
Kementerian Transmigrasi tengah memetakan potensi komoditas unggulan di 45 area transmigrasi prioritas nasional dalam RPJMN 2025-2029
sebagai dasar penyusunan kebijakan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Sebagai salah satu langkah awal, Kementerian Transmigrasi tengah menjajaki pengembangan sentra pisang di Lampung sebagai model pengembangan komoditas berbasis potensi wilayah di area transmigrasi.
Model tersebut diharapkan menjadi percontohan pengembangan komoditas nan bisa memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di area transmigrasi.
Selain itu, Kementerian Transmigrasi juga memperluas kerjasama dengan perguruan tinggi, bumi usaha, dan pemerintah wilayah untuk memperkuat riset, inovasi, transfer teknologi, serta pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal.
Melalui kerjasama tersebut, pemerintah berambisi pengembangan komoditas unggulan di area transmigrasi dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Ant/E-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·