Bupati Sukoharjo Etik Suryani (kiri) dikawal petugas saat tiba untuk menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (10/7/2026). Etik Suryani ditangkap berbareng empat orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK mengenai dugaan peme(ANTARA FOTO/Reno Esnir/IES/nz)
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan fenomena tindak pidana korupsi nan menjerat sejumlah kepala daerah bukan karena aspek tunggal. Lembaga antirasuah ini menyoroti faktor-faktor ialah integritas individu, kelemahan sistem, dan biaya politik nan tinggi sebagai pemicunya.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa korupsi sering kali dipengaruhi oleh beragam aspek.
"Korupsi sering kali tidak lahir lantaran satu aspek tunggal, tetapi dipengaruhi oleh beragam aspek, baik nan berangkaian dengan integritas perseorangan maupun kelemahan sistem nan membuka kesempatan terjadinya penyimpangan," ujar Budi kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Biaya Politik
Salah satu aspek krusial nan diakui KPK yakni tingginya biaya politik dalam pemilihan umum (pemilu) maupun pemilihan kepala wilayah (pilkada). Berdasarkan temuan lapangan, terdapat hubungan linier antara support pendanaan saat kampanye dengan upaya kepala wilayah terpilih untuk mencari untung setelah menjabat.
Budi mencontohkan dua kasus spesifik nan sedang ditangani:
- Kasus Ponorogo: Terdapat dugaan penyandang biaya politik mendapatkan akses unik untuk mengatur proyek pemerintah dan meraup untung sebagai imbal kembali dukungan.
- Kasus Langkat: Pihak swasta nan menjadi bagian dari tim sukses diduga memperoleh beragam paket pekerjaan proyek setelah kandidat nan didukungnya resmi menjabat.
Kajian Direktorat Monitoring KPK menunjukkan bahwa tingginya biaya kampanye merupakan persoalan mendasar nan mendorong praktik korupsi, baik sebelum maupun sesudah seseorang terpilih sebagai pejabat publik.
Daftar 15 Kepala Daerah Tersangka (2025-2026)
Data KPK mencatat sebanyak 15 kepala wilayah hasil Pilkada 2024 telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kurun waktu 2025 hingga pertengahan Juli 2026. Berikut adalah rinciannya:
Tersangka Tahun 2025:
- Abdul Azis (Bupati Kolaka Timur)
- Abdul Wahid (Gubernur Riau)
- Sugiri Sancoko (Bupati Ponorogo)
- Ardito Wijaya (Bupati Lampung Tengah)
- Ade Kuswara Kunang (Bupati Bekasi)
Tersangka Tahun 2026 (Hingga 18 Juli):
- Maidi (Wali Kota Madiun)
- Sudewo (Bupati Pati)
- Fadia Arafiq (Bupati Pekalongan)
- Muhammad Fikri Thobari (Bupati Rejang Lebong)
- Syamsul Auliya Rachman (Bupati Cilacap)
- Gatut Sunu Wibowo (Bupati Tulungagung)
- Edison (Bupati Muara Enim)
- Suhardiman Amby (Bupati Kuantan Singingi)
- Syah Afandin namalain Ondim (Bupati Langkat)
- Etik Suryani (Bupati Sukoharjo)
KPK terus menekankan pentingnya perbaikan sistem pemilu dan penguatan integritas calon pemimpin untuk memutus rantai korupsi nan berakar dari biaya politik tinggi tersebut. (Ant/H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·