Ilustrasi.(Magnific)
BOONMA Klahan memulai paginya dengan memandikan, mengganti pakaian, dan menyuapi ibunya nan berumur 85 tahun. Sang ibu menderita demensia dan menghabiskan hari-harinya di atas kasur tipis di lantai kayu rumah family mereka. Setelah menyiapkan sarapan untuk ayahnya nan berumur 87 tahun, Boonma mengendarai sepeda motor menuju pekerjaannya sebagai asisten kesehatan bagi 22 lansia lain di suatu desa pertanian miskin, barat Bangkok.
Kisah Boonma adalah potret nyata dari krisis demografi nan menghantam Tailan. Negara ini sedang tumbuh menjadi tua sebelum sempat menjadi kaya. Masyarakatnya menua dengan sangat cepat, tetapi tanpa sistem pensiun dan tabungan pribadi nan memadai seperti nan dimiliki negara-negara maju.
Kecepatan Penuaan nan Mengkhawatirkan
Satu dari enam penduduk Tailan kini berumur di atas 65 tahun. Fenomena ini merupakan akibat dari penurunan nomor kelahiran nan dimulai sejak 1970-an. Dalam satu dekade, tingkat kesuburan Thailand ambruk dari rata-rata nyaris enam anak per wanita menjadi hanya dua. Saat ini, tingkat kesuburan Thailand berada di nomor 0,9 alias jauh di bawah nomor 1,6 di Amerika Serikat dan kurang dari separuh nomor nan dibutuhkan untuk menjaga stabilitas populasi.
Perbandingan dengan negara maju menunjukkan kontras nan tajam:
- Amerika Serikat: Membutuhkan waktu lebih dari 70 tahun untuk beranjak dari masyarakat menua (7% lansia) menjadi masyarakat tua (14% lansia). PDB per kapita AS saat mencapai fase tersebut sekitar Rp870 juta (US$55.264).
- Tailan: Hanya memerlukan waktu 18 tahun untuk transisi nan sama (2004 ke 2022). Namun, PDB per kapita Tailan saat menjadi masyarakat tua hanya sekitar Rp108 juta (US$6.910).
Beban Ekonomi dan Sosial
Boonma, nan sekarang berumur 57 tahun, mulai merasakan akibat bentuk dari pekerjaannya. Tanpa support tempat tidur rumah sakit alias peralatan medis khusus, punggung dan lututnya mulai menegang lantaran kudu mengangkat pasien lansia. Secara finansial, dia memperkuat hidup dengan bayaran bulanan sekitar Rp1,4 juta (US$90) ditambah tunjangan hari tua orangtuanya dari pemerintah sebesar Rp780 ribu (US$50) serta kiriman duit dari anak-anaknya.
Survei instansi statistik Tailan tahun 2024 mengungkapkan kondisi nan mengkhawatirkan: 45% penduduk Tailan berusia di atas 60 tahun tidak mempunyai tabungan sama sekali, sementara 35% lain memiliki tabungan kurang dari Rp47 juta (US$3.000). Akibatnya, dua pertiga lansia nan memerlukan support bentuk sangat berjuntai pada anak-anak mereka sebagai pengasuh.
Upaya Pemerintah dan Tantangan Masa Depan
Menteri Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia Tailan, Nikorn Soemklang, mengakui bahwa menyusutnya angkatan kerja bakal menurunkan produktivitas nasional. Pemerintah sekarang berupaya mendorong peningkatan nomor kelahiran. Namun ekonomi Thailand nan tetap berjuntai pada industri padat karya seperti pariwisata dan pertanian membikin transisi ini semakin sulit.
Di wilayah perdesaan seperti Nong Bua Hing, sekitar 80% penduduknya sudah berumur di atas 60 tahun lantaran generasi muda pindah ke kota besar seperti Bangkok untuk mencari nafkah. Meskipun jaringan sosial di perdesaan tetap cukup kuat, ikatan ini mulai rentan di wilayah perkotaan nan tumbuh cepat.
Prediksi Masa Depan: Bank Dunia memperkirakan bahwa pada awal 2040-an, jumlah penduduk Tailan berusia di atas 80 tahun nan memerlukan support bakal meningkat enam kali lipat menjadi sekitar 2,5 juta orang.
Saat ini, pemerintah sedang menguji coba model asuh lansia, ialah tetangga alias family dibayar untuk merawat lansia nan sebatang kara. Salah satu penerimanya adalah Lucksana Tohtrakarn, 67, nan menerima sekitar Rp940 ribu (US$60) per bulan untuk merawat tetangganya, Aran Inthakul, 71, seorang mantan montir nan kesulitan bergerak setelah jatuh. Tanpa intervensi kebijakan nan lebih luas dan sistem agunan sosial nan kuat, Tailan menghadapi akibat krisis kemanusiaan di tengah populasi nan terus menua. (The Wall Street Journal/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·