Krisis Guru di Pedalaman, Insentif hingga Beasiswa S1 Jadi Jawaban

1 jam yang lalu 3
Krisis Guru di Pedalaman, Insentif hingga Beasiswa S1 Jadi Jawaban PT BEK mulai merancang program danasiwa pendidikan bagi pembimbing nan belum menyelesaikan jenjang sarjana. Melalui program tersebut, para tenaga pendidik difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 tanpa kudu menanggung biaya kuliah sendiri.(Dok. PT Bharinto Ekatama)

KETIKA banyak program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) diarahkan pada pembangunan fisik, PT Bharinto Ekatama (PT BEK) memilih konsentrasi berbeda. Perusahaan tambang batu bara tersebut menempatkan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas program sosialnya.

Fokus itu berangkat dari persoalan nan tetap dihadapi sejumlah sekolah di wilayah pedalaman sekitar area operasional perusahaan, terutama keterbatasan tenaga pendidik dan belum terpenuhinya kualifikasi akademik sebagian guru.

Kondisi tersebut salah satunya terlihat di Kampung Besiq Bermai, Kabupaten Kutai Barat. Jumlah peserta didik di sekolah setempat pernah mencapai lebih dari 100 orang, sementara tenaga pengajar nan tersedia tetap terbatas.

Community Development Head PT Bharinto Ekatama, Kristinawati, mengatakan kondisi tersebut membikin perusahaan tidak hanya berupaya membantu memenuhi kebutuhan guru, tetapi juga memandang persoalan pendidikan secara lebih mendasar.

Menurutnya, kualitas pendidikan tidak cukup hanya ditopang oleh keberadaan ruang kelas dan akomodasi sekolah. Kompetensi serta kualifikasi tenaga pendidik menjadi aspek krusial nan turut menentukan proses belajar mengajar.

"Untuk program pendidikan di PT Bharinto Ekatama, memang beberapa tahun terakhir kami lebih berkonsentrasi pada pengembangan alias peningkatan kapabilitas sumber daya manusia. Kami berpikir bahwa pembangunan prasarana pada dasarnya menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah. Karena itu, kami memilih konsentrasi pada pengembangan pembimbing dan sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasional perusahaan," katanya.

Sebelum menjalankan program beasiswa, PT BEK terlebih dulu memberikan support berupa honor alias insentif kepada sejumlah pembimbing honorer di sekolah-sekolah sekitar wilayah operasional. Langkah tersebut dilakukan agar proses belajar mengajar tetap melangkah di tengah keterbatasan tenaga pendidik.

Namun, persoalan tidak berakhir di sana. Ketika sejumlah pembimbing nan sebelumnya mengajar di sekolah pedalaman dinyatakan lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), mereka kemudian ditempatkan di sekolah lain. Perpindahan tersebut kembali membikin sekolah asal mengalami kekurangan tenaga pengajar.

"Sebelum ada program beasiswa, kami sudah mendukung beberapa pembimbing melalui pemberian honor alias insentif. Tetapi ketika ada seleksi PPPK, beberapa pembimbing diterima dan ditempatkan di sekolah lain. Akibatnya, sekolah nan sebelumnya kekurangan pembimbing menjadi semakin kekurangan tenaga pengajar," ujarnya.

Dari pertimbangan tersebut, perusahaan menemukan persoalan lain nan tidak kalah penting. Sebagian pembimbing nan mengajar di sekolah-sekolah pedalaman rupanya belum mempunyai kualifikasi pendidikan minimal S1.

Kondisi itu menjadi hambatan ketika mereka mau mengikuti seleksi PPPK nan mensyaratkan kualifikasi akademik tertentu.

"Kami kembali menambah beberapa pembimbing honorer dan memberikan support berupa honor alias insentif. Setelah kami memandang lebih jauh, rupanya persoalannya bukan hanya kekurangan guru. Kami juga menemukan bahwa beberapa pembimbing tidak bisa mengikuti seleksi PPPK lantaran belum mempunyai kualifikasi pendidikan S1," jelas Kristinawati.

Temuan tersebut kemudian mendorong PT BEK mengubah pendekatan programnya. Perusahaan tidak hanya membantu menghadirkan pembimbing di sekolah-sekolah pedalaman, tetapi juga berupaya meningkatkan kapabilitas pembimbing nan sudah ada.

Pada 2024, PT BEK mulai merancang program danasiwa pendidikan bagi pembimbing nan belum menyelesaikan jenjang sarjana. Melalui program tersebut, para tenaga pendidik difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 tanpa kudu menanggung biaya kuliah sendiri.

"Melalui program ini, guru-guru nan belum menyelesaikan pendidikan sarjana kami fasilitasi untuk melanjutkan kuliah hingga jenjang S1. Sebagian di antaranya sudah menjalani perkuliahan dan perusahaan mengambil alih pembiayaan danasiwa tersebut," katanya.

Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keahlian guru, tetapi juga memperbesar kesempatan mereka untuk memenuhi persyaratan akademik dalam mengikuti seleksi PPPK.

Dengan demikian, support perusahaan tidak berakhir pada pemenuhan kebutuhan pembimbing dalam jangka pendek, tetapi diarahkan untuk membangun tenaga pendidik nan mempunyai kualifikasi lebih baik dan dapat memperkuat dalam sistem pendidikan formal.

Saat ini, program tersebut telah menjangkau puluhan tenaga pendidik di wilayah operasional PT BEK. Di Kalimantan Timur, terdapat 18 pembimbing penerima insentif dan nyaris seluruhnya juga mendapatkan support beasiswa. Jika digabungkan dengan penerima di Kalimantan Tengah, jumlah pembimbing nan mendapatkan support mencapai 56 orang.

Bagi PT BEK, investasi di bagian pendidikan tersebut menjadi upaya untuk menjawab persoalan nan ditemukan langsung di lapangan: bukan sekadar gimana mendatangkan pembimbing ke sekolah pedalaman, tetapi gimana memastikan mereka mempunyai keahlian dan kualifikasi nan memadai untuk terus mengajar.

Melalui peningkatan kapabilitas tersebut, perusahaan berambisi sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasionalnya dapat mempunyai tenaga pendidik nan lebih kompeten sekaligus memenuhi standar kualifikasi nasional.

Sebab, di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah pedalaman, keberadaan pembimbing bukan hanya soal jumlah. Kualitas dan keberlanjutan tenaga pendidik menjadi bagian krusial untuk memastikan anak-anak di kampung-kampung terpencil tetap mendapatkan kesempatan belajar nan layak. (E-1)

Selengkapnya