Kronologi Rakyat Ngamuk Sampai Menteri Mundur, Negara Lumpuh Total

17 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Perpolitikan India sekarang menjadi sorotan lantaran penduduk negaranya menuntut pengunduran diri pejabatnya. Sharmendra Pradha memilih mundur dari bangku Menteri Pendidikan India akibat dari buntut protes kebocoran soal ujian sejak bulan Mei lalu.

Sebelumnya tindakan protes para anak muda nan dinamakan Partai Janata Kecoa (CJP) menyuarakan soal masalah kebocoran soal ujian dan mendesak Pradhan meninggalkan kursinya sebagai menteri. Kebocoran itu disebut telah menghancurkan kehidupan jutaan siswa dan lebih dari selusin siswa bunuh diri.

"Mengingat situasi nan terjadi di Jantar Mantar dan seluruh negeri, agar kekuatan anti-sosial tidak memanfaatkan situasi ini, saya telah mengirimkan surat pengunduran diri kepada perdana menteri," kata Pradhan dalam unggahan di media sosial, dikutip dari The Guardian, Minggu (26/7/2026).

Ratusan pendukung aktivitas "kecoa" dilaporkan berkumpul di ibu kota New Delhi, India pada tanggal 20 Juli 2026 lalu. Sebuah laporan menyebut pemerintah setempat sempat memblokir internet di letak protes.

Dua sumber kepada Reuters mengatakan perusahaan telekomunikasi diperintahkan untuk menonaktifkan jasa seluler bagian tengah Delhi. Termasuk bagian dalam dan sekitar letak demo.

Mengutip Reuters, tindakan itu digelar bertepatan dengan dimulainya sidang parlemen. Massa Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi resign menyusul skandal kebocoran soal ujian nasional nan memicu kemarahan jutaan pelajar dan mahasiswa.

Gerakan kecoa ini bermulai setelah soal ujian masuk sekolah kedokteran nasional bocor pada Mei lalu. Kebocoran itu berakibat pada lebih dari 2 juta peserta ujian, nan akhirnya kudu mengikuti ujian ulang.

Gerakan nan awalnya berkembang di media sosial itu sekarang berubah menjadi tindakan massa besar. Dalam hitungan hari, akun media sosial CJP disebut sukses mengumpulkan sekitar 22 juta pengikut di Instagram, sebelum kemudian memperoleh support dari sejumlah partai oposisi.

Situasi semakin memanas setelah aktivis Sonam Wangchuk, nan berasosiasi dalam tindakan duduk sejak akhir Juni dan melakukan mogok makan, dipindahkan secara paksa ke rumah sakit oleh abdi negara pada Sabtu lalu. Peristiwa itu memicu gelombang simpati dan mendorong lebih banyak demonstran datang ke ibu kota.

Melalui surat nan diunggah di akun X miliknya dari rumah sakit, Wangchuk menyatakan bakal mengakhiri tindakan mogok makan jika pemerintah bersedia bertanggung jawab atas kegagalan sistem pendidikan. Termasuk kebocoran soal ujian alias jika para demonstran diizinkan menyampaikan aspirasi mereka di parlemen.

"Semua pemimpin nan berkuasa tidak kompeten. Saya datang untuk memprotes lantaran kami tidak mau lagi ada kebocoran soal ujian. Ini kudu diakhiri," kata mahasiswa berumur 21 tahun nan datang dari Kota Meerut, Adi Nathan, menghadiri protes.

"Kami mau korupsi ini berakhir. Kami mau semua kecurangan dalam kebocoran soal ujian dihentikan," ujar mahasiswa lainnya, Mohammed Tabrez (22), nan mengatakan dirinya datang dari Negara Bagian Uttar Pradesh untuk menyuarakan penolakan terhadap praktik korupsi dalam penyelenggaraan ujian.

Sementara itu, para analis menilai menguatnya aktivitas CJP mencerminkan meningkatnya frustrasi generasi muda terhadap tingginya pengangguran dan berulangnya skandal kebocoran soal ujian. Data pemerintah menunjukkan tingkat pengangguran nasional pada 2025 mencapai 3,1% untuk masyarakat usia 15 tahun ke atas.

Namun, pada golongan usia 15-29 tahun, angkanya jauh lebih tinggi ialah 9,9%, apalagi mencapai 13,6% di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu aspek nan memicu meluasnya gelombang protes terhadap pemerintahan PM Modi.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya