Kurangi Impor BBM Bensin, Ini Strategi Pertamina Patra Niaga

2 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga menargetkan pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) khususnya bensin melalui pengembangan biogasoline di kilang dalam negeri.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman menjelaskan bahwa kebanyakan produk BBM nan diimpor saat ini adalah jenis bensin. Oleh lantaran itu, perusahaan tengah mengupayakan penggunaan teknologi co-processing untuk meningkatkan kemandirian dan kapabilitas daya nasional dari dalam negeri.

"Lalu untuk mengurangi gap kebutuhan gasoline lantaran majority of imported produk itu gasoline, kita juga sedang mengeksplor gimana co-processing untuk biogasoline di our refinery, existing refinery Cilacap and Balongan," katanya dalam aktivitas Coffee Morning CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (25/7/2026).

Hal itu juga sebagai salah satu upaya Pertamina untuk meningkatkan ketangguhan sistem daya di Indonesia. Selain bensin, perusahaan terus berupaya mengoptimalkan kapabilitas kilang nan saat ini kapasitasnya telah mencapai 1,2 juta barel per hari.

"Sehingga meskipun perihal mini kita dapat mengurangi ketergantungan bahan baku nan diimpor. Jadi itulah upaya kami untuk meningkatkan ketahanan kapabilitas daya kami di Indonesia," jelas Taufik.

Selain melalui biogasoline, Pertamina juga mulai berinvestasi pada green refinery untuk memproduksi beragam bahan bakar ramah lingkungan. Fokus pengembangan tersebut saat ini berada di Kilang Cilacap guna menghasilkan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan bahan bakar penerbangan berkepanjangan alias SAF.

"Bukan hanya B50, tetapi kami pun sekarang investment dalam bio alias green refinery untuk produce HVO dan sustainable aviation fuel di Cilacap," tambahnya.

Dengan begitu, pihaknya terus berkomitmen untuk menjaga kesiapan daya bagi masyarakat melalui penguatan prasarana pengedaran nan tersebar di pelosok tanah air. Tantangan pengedaran di wilayah pegunungan maupun wilayah 3T terus diprioritaskan guna memastikan keterjangkauan dan pengedaran daya nasional tetap terjaga.

Senada dengan itu, sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah menyiapkan penerapan bensin dengan campuran etanol 10% (E10) di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi impor BBM jenis bensin.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan kajian penerapan bioetanol telah dimulai sejak 2025. Adapun, pemerintah menargetkan penerapan berjenjang mulai E10 sebelum menuju E20.

"Begitu etanol kita terapkan mandatory, maka kita bisa melakukan efisiensi alias penghematan terhadap impor BBM jadi untuk bensin," kata Bahlil di Istana Negara dikutip Selasa (21/7/2026).

Meski demikian, pemerintah tidak mau kebutuhan etanol dipenuhi melalui impor. Oleh karena itu, dalam satu hingga dua tahun ke depan konsentrasi diarahkan pada pembangunan industri bioetanol di dalam negeri.

"Nah industrinya di mana? Yaitu bahan bakunya adalah singkong, tebu, kemudian jagung dan beberapa komoditas lain. Nah 1-2 tahun ini kita melakukan persiapan, setelah itu kita mandatory full E20," katanya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya