ARTICLE AD BOX
Lamine Yamal(Dok AFP)
BINTANG muda Timnas Spanyol, Lamine Yamal, menegaskan dirinya sama sekali tidak merasakan tekanan menjelang pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 melawan Prancis. Laga bergengsi tersebut bakal berjalan di Stadion Dallas, Amerika Serikat, Rabu (15/7) pukul 02.00 WIB.
Pertemuan kontra Prancis menjadi pertandingan paling krusial bagi La Furia Roja sejak tampil di final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Spanyol sekarang hanya berjarak satu langkah dari partai puncak, tetapi lebih dulu kudu menyingkirkan juara bumi 2018 sekaligus finalis jenis 2022 tersebut.
Meski laga diprediksi berjalan ketat, Yamal mengaku tetap tenang dan percaya diri menghadapi tantangan besar berbareng timnya.
"Kami tahu gimana menghadapi kesulitan. Soal tekanan, saya tidak merasakannya," kata Yamal nan baru berumur 19 tahun kemarin Senin, dikutip dari laman resmi FIFA, Selasa (14/7).
Pemain muda Barcelona itu juga menanggapi dugaan bahwa performanya di Piala Dunia 2026 belum mencapai level terbaik.
"Kalian sendiri nan mengatakan bahwa saya sedang tidak berada dalam performa terbaik. Jadi kalian semestinya tidak berambisi terlalu banyak dari saya. Tetapi saya percaya besok bakal menjadi hari nan spesial," kata dia.
Sepanjang turnamen, Yamal baru mengoleksi satu gol. Namun, perihal tersebut tidak menjadi beban lantaran dia menilai kontribusinya bagi tim tidak hanya diukur dari jumlah gol maupun assist, tetapi juga perannya dalam permainan secara keseluruhan.
Semifinal melawan Prancis menjadi penampilan kedua Yamal di empat besar turnamen besar berbareng Timnas Spanyol. Sebelumnya, dia sukses membantu negaranya menjuarai Piala Eropa 2024. Saat itu, gol nan dicetak Yamal turut membawa Spanyol menyingkirkan Prancis dengan skor 2-1 dan melaju ke final.
Di sisi lain, pembimbing Spanyol Luis de la Fuente juga menunjukkan sikap optimistis jelang pertandingan. Dalam konvensi pers, pembimbing berumur 65 tahun tersebut menekankan pentingnya menjaga keseimbangan mental agar tekanan tidak berubah menjadi rasa gugup.
"Kuncinya adalah menemukan keseimbangan. Kami tidak boleh membiarkan tanggung jawab itu justru membikin kami gugup," kata pembimbing 65 tahun tersebut.
Ketenangan De la Fuente dinilai mengingatkan pada perjalanan Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 di bawah pengarahan Vicente del Bosque. Kala itu, skuad La Furia Roja nan diperkuat Iker Casillas, Xavi, Andres Iniesta, David Villa, dan generasi emas lainnya dikenal sebagai "para romantikus sepak bola".
Menurut De la Fuente, semangat nan dimiliki generasi juara bumi tersebut tetap relevan untuk diwariskan kepada para pemain Spanyol saat ini.
"Saya selalu mengatakan kepada para pemain agar menikmati apa nan mereka miliki saat ini. Kalian adalah orang-orang nan beruntung, begitu juga kami. Kami bakal bermain sepak bola dan kami mempunyai kualitas nan luar biasa. Jadi mari lakukan apa nan memang kami kuasai," kata dia.
Pelatih berumur 65 tahun itu menegaskan bahwa satu-satunya tekanan nan dia berikan kepada para pemain adalah tampil maksimal dan mengeluarkan seluruh keahlian mereka di lapangan.
"Itulah satu-satunya tekanan nan saya berikan kepada mereka, lihat saja, saya pembimbing nan lembut, agar mereka bisa mengeluarkan seluruh potensi terbaik mereka sebagai pesepak bola," kata dia. (Ant/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·