Lindsey Graham.(Al Jazeera)
WAFATNYA Senator Lindsey Graham secara mendadak merampas salah satu sahabat paling langka bagi Israel di Washington, seorang pendukung setia sekaligus tokoh politik nan sangat berpengaruh. Kepergiannya terjadi di tengah meningkatnya faksi-faksi di dalam Partai Republik maupun Demokrat nan mulai berbalik arah melawan negara tersebut.
Senator asal South Carolina tersebut merupakan salah satu advokat Israel paling efektif di Washington. Ia meninggalkan warisan hubungan bilateral nan sekarang tengah merenggang, apalagi nyaris putus, di tengah kontroversi atas perang Israel di Jalur Gaza dan ketegangan dengan Iran.
"Ini bisa dikatakan sebagai pergantian penjaga," ujar Jonathan Rynhold, intelektual politik di Universitas Bar-Ilan, Israel. "Sulit membayangkan ada orang lain di sisi Republik nan mempunyai berat politik sebesar dirinya."
Penghubung Utama Netanyahu dan Trump
Graham, nan bakal dihormati dalam upacara pemakaman di Katedral Nasional Washington pada Selasa (28/7) waktu setempat, menjabat sebagai saluran komunikasi utama antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Graham membantu meyakinkan Trump untuk menyerang Iran pada Februari lalu, termasuk melatih Netanyahu tentang langkah melobi presiden agar mengambil tindakan militer.
Netanyahu diperkirakan bakal menghadiri pemakaman tersebut dan berjumpa dengan Trump. Pertemuan ini dianggap sebagai kemenangan bagi sang perdana menteri setelah berminggu-minggu melobi untuk mendapatkan waktu tatap muka di Gedung Putih.
Senator nan berumur 71 tahun saat wafat ini adalah orang pertama nan bakal dihubungi Netanyahu jika mempunyai pertanyaan mengenai hubungan AS-Israel. Graham tercatat melakukan setidaknya 10 perjalanan ke Israel dan area sekitarnya sejak serangan 7 Oktober 2023.
Pergeseran Generasi dan Sentimen Publik
Kematian Graham terjadi saat support terhadap Israel mulai memudar di kalangan Demokrat dan semakin meningkat di kalangan Republik pascaperang Gaza. Michael Oren, mantan duta besar Israel untuk AS, menyebut Graham sebagai bagian dari generasi legislator nan memudar namalain mereka nan tumbuh dengan memori kolektif tentang Holocaust dan perjuangan awal Israel melawan tetangga Arabnya pada 1967 dan 1973.
"Lindsey adalah produk dari masanya," kata Oren. Sebaliknya, generasi muda di AS saat ini lebih banyak dibentuk oleh peristiwa kehancuran di Gaza, kekerasan pemukim di Tepi Barat, dan pendalaman pendudukan wilayah.
Data Jajak Pendapat Terbaru:
- Jajak pendapat Pew (April): 60% orang dewasa AS memandang Israel secara tidak menguntungkan, naik dari 42% pada 2022.
- Jajak pendapat Gallup (Februari): Untuk pertama kali, lebih banyak penduduk Amerika nan bersimpati kepada Palestina dibandingkan Israel.
- Dukungan Republik: Turun dari 77% menjadi 65% dalam periode 2022 hingga 2026.
Tantangan bagi Masa Depan Hubungan Bilateral
Penurunan support itu juga merambah ke golongan Kristen Evangelis muda. Data menunjukkan bahwa di antara penduduk evangelis kulit putih di bawah usia 50 tahun, sekarang 50% memandang Israel secara negatif. Hal ini menjadi kekhawatiran besar bagi instansi perdana menteri Israel nan selama bertahun-tahun membina hubungan erat dengan golongan tersebut.
Di dalam Partai Demokrat, tokoh-tokoh seperti Rahm Emanuel mulai menyuarakan penghentian support militer tanpa syarat dan hukuman terhadap perusahaan nan mendukung pembangunan pemukiman di Tepi Barat. Sementara itu, di sayap kanan, aktivitas MAGA nan condong isolasionis mulai menunjukkan sikap anti-Israel melalui tokoh-tokoh seperti Tucker Carlson dan Candace Owens.
"Dia adalah indikasi dari era hubungan nan berbeda," kata Avishay Ben Sasson-Gordis, pengajar senior hubungan internasional di Universitas Tel Aviv. “Lintasan nan kita lalui saat ini adalah menyusutnya pusat support tanpa syarat bagi Israel di kedua partai." (I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·