Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

20 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Ridwan Al-Makassary, Direktur COMPOSE, UIII. Foto/dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

DI JALAN-jalan Teheran, jutaan manusia menyemut dan melangkah perlahan mengiringi sebuah peti jenazah. Bahkan, mereka berdatangan dari tempat nan jauh: desa-desa terpencil, kota-kota besar, apalagi dari luar Iran. Sebagian membawa kembang dan foto. Sebagian lagi hanya membawa air mata. Negara Iran menyebutnya “Pemakaman Abad ini”.

Sekitar puluhan juta orang telah mengikuti rangkaian pemakaman selama enam hari, dari persemayaman di Mosalla Agung Teheran menuju Qom, Najaf, Karbala, hingga pemakaman bedrlokasi di Mashhad, kota kelahiran Ayatollah Ali Khamenei pada Kamis (9/7/2026). Sementara itu, upacara pemakaman resmi kenegaraan digelar di Teheran pada Sabtu (4/7/2026).

Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, prosesi itu menyampaikan satu pesan nan lebih tua daripada revolusi, nan lebih kuat daripada dentuman rudal, dan lebih panjang usianya daripada sebuah rezim. Di mana tidak ada kekuasaan nan bisa mengalahkan kematian nan jumawa. Semua kekuasaan mempunyai akhir.

Selama nyaris empat dekade, Khamenei adalah pusat gravitasi Republik Islam Iran. Di tangannya berpadu otoritas agama, militer, keamanan, dan politik luar negeri. Dia menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus wajah dari sebuah negara teokratis Islam nan memperkuat di tengah tekanan embargo ekonomi, isolasi diplomatik, dan beragam upaya perubahan rezim dari luar.

Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah penjaga martabat bangsa Persia. Ia juga seorang faqih (ahli norma Islam) nan mempertahankan kedaulatan Iran ketika banyak negara memilih tunduk pada tekanan kekuatan besar.

Selengkapnya