ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Malaysia resah. Hal ini mengenai berdirinya "kampung Israel" di sebuah komplet area pemukiman di Johor.
Pemerintah negara bagian pun memerintahkan penyelidikan. Hal ini mengenai organisasi startup nan beraksi di area Forest City berjulukan Network School.
Awalnya dilaporkan bahwa sejumlah penduduk negara Israel mengikuti program tersebut menggunakan paspor dari negara lain. Warga Israel sendiri tak bisa masuk Malaysia lantaran kedua negara tak mempunyai hubungan diplomatik.
Melansir Channel News Asia (CNA), Menteri Besar Johor Onn Hafiz Ghazi mengatakan pemerintah wilayah telah menerima beragam laporan dan kekhawatiran publik. Hal ini mengenai aktivitas sebuah organisasi nan mengusung konsep tempat tinggal sekaligus pusat pembelajaran bagi pendiri startup, pekerja jarak jauh (remote worker), dan pembuat konten.
"Kami tidak bakal membiarkan pihak mana pun menggunakan Johor sebagai pedoman untuk menyebarkan ideologi alias aktivitas nan bertentangan dengan hukum, kedaulatan, dan kepentingan Johor maupun Malaysia," kata Onn Hafiz dalam pernyataan resmi, Selasa (14/7/2026).
Paspor Kedua
Onn Hafiz mengatakan dirinya telah meminta Kementerian Dalam Negeri, Departemen Imigrasi, Kepolisian, Bea Cukai, serta beragam lembaga keamanan lainnya untuk menyelidiki identitas dan kebangsaan para peserta maupun penyelenggara Network School. Penyelidikan juga mencakup dugaan penggunaan paspor kedua oleh perseorangan nan mempunyai keterkaitan dengan Israel untuk memasuki Malaysia.
Selain itu, pemerintah mau memastikan apakah tujuan kehadiran mereka sesuai dengan aktivitas nan dijalankan di Forest City. Tak hanya aspek keimigrasian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Digital, serta sejumlah regulator lainnya juga diminta memeriksa status norma Network School, termasuk apakah program nan dijalankan telah memperoleh izin sesuai peraturan Malaysia.
Di tingkat daerah, Dewan Kota Iskandar Puteri berbareng Kantor Pertanahan Johor bakal mengaudit kepatuhan terhadap izin usaha, Penggunaan bangunan, status lahan, hingga aktivitas upaya nan dilakukan organisasi tersebut juga bakal diselidiki.
"Jika ditemukan pelanggaran hukum, penyalahgunaan paspor, pelanggaran izin maupun unsur nan menakut-nakuti kepentingan negara dan keamanan nasional, kami meminta tindakan tegas tanpa kompromi," tegas Onn Hafiz.
Kenapa ke Malaysia?
Network School sebelumnya sempat menjadi sorotan pada Oktober 2025 setelah pembuat konten asal Israel Nuseir Yassin, nan dikenal sebagai Nas Daily, mengunggah video promosi mengenai organisasi tersebut dari Johor. Video nan menampilkan sejumlah ikon Johor dan pemandangan Singapura itu kemudian dihapus.
Network School didirikan pada 2024 oleh pengusaha teknologi asal Amerika Serikat sekaligus mantan Chief Technology Officer (CTO) Coinbase, Balaji Srinivasan. Melalui situs resminya, Network School menyebut dirinya sebagai organisasi bagi para "techno-optimists" nan menggabungkan hunian, ruang kerja berbareng (co-working space), pusat kebugaran, serta aktivitas pembelajaran.
Biaya keanggotaan dimulai dari US$1.500 per bulan, termasuk akomodasi, makan, dan beragam akomodasi lainnya. Konsep tersebut merupakan bagian dari pendapat "network state" nan dipopulerkan Srinivasan, ialah membangun organisasi digital nan pada akhirnya berkembang menjadi permukiman bentuk dengan sistem sosial dan ekonomi sendiri.
Kasus ini kembali menempatkan Forest City, proyek kota pandai senilai miliaran dolar di Johor nan berada di dekat Singapura, dalam sorotan publik. Pemerintah Malaysia sekarang berupaya memastikan seluruh aktivitas di area tersebut tetap sejalan dengan norma nasional serta tidak mengganggu keamanan dan kedaulatan negara.
Perlu diketahui Forest City sendiri sempat dicap kota hantu di Malaysia di 2023, oleh banyak media barat, termasuk BBC International. Hal ini lantaran minimnya okupansi di wilayah itu.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·