ARTICLE AD BOX
ilustrasi(Magnific)
Berjalan kaki dikenal sebagai salah satu aktivitas bentuk nan paling mudah dilakukan. Selain tidak memerlukan peralatan khusus, olahraga sederhana ini juga dapat dilakukan nyaris di mana saja. Kini, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa melangkah kaki dengan langkah sigap selama 15 menit setiap hari sudah bisa memberikan faedah kesehatan nan signifikan.
Penelitian nan dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa melangkah sigap selama 15 menit per hari berangkaian dengan penurunan akibat kematian hingga 19%. Temuan ini menjadi berita baik, terutama bagi masyarakat nan kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga dalam lama panjang.
Penelitian tersebut kemudian diulas oleh laman EatingWell nan menyoroti bahwa melangkah sigap merupakan aktivitas sederhana dengan faedah kesehatan nan nyata, apalagi bagi golongan masyarakat nan selama ini kurang banyak menjadi subjek penelitian.
Penelitian Libatkan 85 Ribu Peserta
Penelitian dilakukan menggunakan info dari Southern Community Cohort Study (SCCS) nan melibatkan sekitar 85.000 orang berumur 40 hingga 79 tahun. Seluruh peserta merupakan perseorangan nan tidak menjalani pengobatan kanker dalam satu tahun sebelum mengikuti penelitian.
SCCS merupakan studi nan dirancang untuk memahami penyebab kesenjangan kesehatan pada masyarakat berpenghasilan rendah dan golongan minoritas ras di Amerika Serikat. Lebih dari separuh peserta mempunyai pendapatan kurang dari US$15.000 (sekitar Rp240 juta dengan kurs saat ini) per tahun, sementara sekitar dua pertiganya merupakan penduduk kulit hitam.
Pada awal penelitian, peserta diminta mengisi kuesioner mengenai kebiasaan melangkah kaki, gaya hidup, hingga riwayat kesehatan. Mereka melaporkan berapa lama melangkah setiap hari, baik dengan kecepatan santuy maupun cepat.
Peneliti kemudian membagi lama melangkah kaki ke dalam beberapa kelompok, mulai dari tidak melangkah sama sekali, kurang dari 30 menit, 30–60 menit, hingga lebih dari satu jam per hari. Selain itu, faedah melangkah sigap juga dianalisis dalam interval nan lebih kecil, termasuk setiap tambahan 15 menit.
Tak hanya kebiasaan berjalan, peneliti juga mempertimbangkan aspek lain nan dapat memengaruhi kesehatan, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan, aktivitas bentuk secara umum, hingga waktu nan dihabiskan untuk duduk. Seluruh peserta dipantau hingga 31 Desember 2022 menggunakan info National Death Index untuk mengetahui status kehidupan dan penyebab kematian mereka.
Jalan Cepat Lebih Efektif daripada Jalan Santai
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nan cukup jelas antara melangkah santuy dan melangkah cepat. Berjalan santuy selama lebih dari tiga jam sehari memang dikaitkan dengan penurunan akibat kematian sekitar 4%. Namun, hubungan tersebut tidak cukup kuat secara statistik sehingga belum dapat dipastikan sebagai faedah nan signifikan.
Sebaliknya, melangkah sigap memberikan hasil nan jauh lebih meyakinkan. Peneliti menemukan bahwa hanya dengan melangkah sigap selama 15 menit setiap hari, akibat kematian secara keseluruhan dapat menurun hingga 19%.
Manfaat tersebut tetap terlihat meski peneliti telah memperhitungkan beragam aspek style hidup lain, seperti pola makan, kebiasaan merokok, serta aktivitas bentuk lainnya. Artinya, melangkah sigap mempunyai faedah tersendiri dalam menjaga kesehatan.
Temuan Utama: Peserta nan melangkah sigap lebih dari 60 menit setiap hari mempunyai akibat meninggal akibat penyakit kardiovaskular sekitar 20% lebih rendah dibandingkan mereka nan tidak melangkah kaki sama sekali. Penurunan akibat paling besar ditemukan pada penyakit jantung, terutama penyakit jantung iskemik dan kandas jantung.
Menariknya, faedah melangkah sigap tetap dirasakan oleh orang nan sudah rutin berolahraga. Peserta nan aktif secara bentuk tetapi juga melangkah sigap lebih dari satu jam setiap hari tetap memperoleh tambahan faedah berupa penurunan akibat kematian sebesar 16% dibandingkan mereka nan tidak melakukan jalan cepat.
Keterbatasan Penelitian
Namun, meski hasilnya menjanjikan, peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini mempunyai sejumlah keterbatasan. Data mengenai kebiasaan melangkah kaki diperoleh berasas laporan peserta sendiri sehingga kemungkinan terjadi kekeliruan dalam pelaporan, misalnya memasukkan aktivitas seperti menaiki tangga sebagai bagian dari melangkah kaki.
Selain itu, info aktivitas bentuk hanya dikumpulkan pada awal penelitian sehingga perubahan kebiasaan peserta selama masa pemantauan tidak dapat diketahui. Karena penelitian ini berkarakter observasional, para peneliti juga belum dapat memastikan bahwa hubungan nan ditemukan sepenuhnya disebabkan oleh kebiasaan melangkah cepat. Faktor kesehatan lain nan tidak diukur tetap mungkin memengaruhi hasil penelitian. (E-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·