ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor tetap menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Salah satu sektor nan dinilai paling rentan adalah industri farmasi lantaran sebagian besar bahan bakunya tetap berasal dari luar negeri.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan penguatan industri nasional tidak cukup hanya meningkatkan kapabilitas produksi. Menurutnya, pemerintah juga kudu memperkuat industri hulu agar rantai pasok lebih mandiri.
"Secara umum hari ini industri pengolahan non-migas sebenarnya nilai ekspornya itu hanya sekitar dua puluh satu persen lebih, sementara nilai industri pengolahan non-migas nan ada di pasar dalam negeri itu sekitar tujuh puluh delapan koma tiga puluh sembilan persen. Jadi dalam perihal ini pemenuhan pasar domestiknya lumayan membantu Pimpinan," kata Faisol dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (14/7/2026).
Pasar domestik memang tetap menjadi penopang utama industri nasional. Namun di kembali itu tetap terdapat ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor nan berpotensi mengurangi daya saing industri dalam negeri. Pemerintah sekarang mulai memetakan sektor-sektor nan perlu diprioritaskan dalam program substitusi impor.
"Namun demikian, kita juga perlu dalami agak perincian lantaran produk-produk nan ada di pasar domestik pun itu tetap banyak bahan baku nan memerlukan aktivitas industri nan sifatnya substitusi. Kami ambil contoh, misalnya di industri farmasi, 90 persen bahan baku itu tetap impor. 90 persen tetap impor," tegasnya.
Tantangan tersebut kudu segera diatasi agar Indonesia tidak terus berjuntai pada pasokan luar negeri. Pemerintah juga mencermati meningkatnya daya saing negara-negara tetangga nan garang mengembangkan industri manufaktur.
"Ini tantangan nan luar biasa buat industri dalam negeri. Dan tentu saja industri-industri lain kami juga perlu memandang satu per satu masalah-masalah nan kudu kita pecahkan agar kita bisa menghadapi apa nan tadi disampaikan, Vietnam dan Filipina misalnya nan nilai ekspornya sangat meningkat eksponensial," katanya.
Peningkatan daya saing industri tetap menjadi konsentrasi agar produk nasional bisa bersaing di pasar domestik maupun ekspor tanpa membebani masyarakat.
"Namun demikian, pemenuhan industri dalam negeri kami juga tetap mendorong agar efisiensi biaya produksi terus-menerus bisa dilakukan oleh industri agar nilai nan beredar tidak menyebabkan kenaikan nilai nan membebani konsumen," sebut Faisol.
Rapat kerja Kementerian Perindustrian dengan Komisi VII DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (14/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Rapat kerja Kementerian Perindustrian dengan Komisi VII DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (14/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·