Membangun Sepak Bola Putri Indonesia lewat Liga Berkelanjutan

3 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Membangun Sepak Bola Putri Indonesia lewat Liga Berkelanjutan Pertandingan final U-18 antara Akademi Persib melawan Putri Garut(Soccer League All-Stars)

Membangun sepak bola putri dari usia awal perlu menjaga kompetisi liga terus bergulir agar pembinaan pemain secara berjenjang berlangsung. Jalur kejuaraan nan berkesinambungan diyakini menjadi fondasi untuk memperluas pedoman talenta sekaligus membangun timnas putri. Pesan itu mengemuka saat putaran nasional Hydroplus Soccer League (HPSL) All-Stars 2025-2026 kategori U-15 dan U-18 berhujung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (12/7). Akademi Persib keluar sebagai juara U-18 sedangkan gelar di kategori U-15 diraih Goal Aksis Bandung.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin menyatakan Hydroplus Soccer League berbareng MilkLife Soccer Challenge nan konsentrasi pada usia sekolah dasar bakal terus digelar sebagai bagian dari ekosistem pembinaan sepak bola putri usia muda nan berjenjang.

"Kami bakal terus mengawal kejuaraan berjenjang ini agar jalur pembinaan atlet nasional kita tidak terputus. Bahkan, kami juga memperluas kota-kota penyelenggaraan sehingga ekosistem sepak bola putri semakin meluas dan merata di seluruh Indonesia. Kami tidak bakal mundur dalam memajukan sepak bola putri Indonesia," ucap Yoppy.

Selama putaran nasional All-Stars berjalan satu pekan, pembimbing timnas putri U-16 Timo Scheunemann dan talent scouting Hydroplus Jacksen F Tiago memantau para pemain. Mereka berbareng asisten pembimbing timnas putri senior Takumi Taniguchi bakal menyaring pemilihan pemain untuk dua skuad Indonesia nan bakal tampil di turnamen internasional Srikandi Merdeka Cup pada Agustus mendatang.

Di arena tersebut, Indonesia dijadwalkan menghadapi Thailand, Singapura, Arab Saudi, Malaysia, Filipina, dan Yordania. Tahap berikutnya, pemain dari HPSL nan masuk radar bakal mengikuti pemusatan latihan di Kudus mulai 24 Juli. Seleksi dilakukan menggunakan parameter nan telah disusun bersama, mulai dari aspek teknik, kondisi fisik, komunikasi, hingga kepintaran bermain (football intelligence).

"Yang terpenting sekarang ada kesempatan untuk 46 pemain (dua tim), bukan hanya 23. Kesempatan ini kudu dimanfaatkan agar mereka semakin serius mengembangkan karier. Harapan saya, ke depan memilih pemain timnas justru menjadi jauh lebih susah lantaran kualitas dan persaingannya semakin tinggi," ujar Timo.

Menurutnya, saat ini jalan menuju timnas putri tetap lebih terbuka dibanding sepak bola putra lantaran jumlah pemain berbobot belum terlalu banyak. Namun kondisi tersebut diyakini bakal berubah andaikan kejuaraan usia muda terus melangkah secara konsisten.

Timo memandang perkembangan keahlian pemain di HPSL berjalan cukup pesat. Sejumlah pemain nan semula belum menonjol sekarang tampil lebih matang setelah menjalani kejuaraan selama nyaris sepuluh bulan dengan format liga. Banyak juga pemain nan tampil di HPSL merupakan jebolan dari MilkLife Soccer Challenge.

Dia menilai perubahan tersebut tidak lepas dari pola pembinaan klub nan mulai bergeser. Jika sebelumnya latihan tetap mengikuti siklus turnamen nan tidak begitu rutin, sekarang banyak klub menjalankan program latihan sepanjang tahun.

"Terlihat sekali perkembangannya. Ada pemain nan tahun lampau belum siap, sekarang jauh lebih baik. Mereka bermain rutin setiap dua pekan dan berlatih terus-menerus. Dampaknya, kualitas meningkat dan persaingan makin ketat," katanya.

Timo juga membujuk pesepak bola putri dari wilayah nan belum mempunyai kejuaraan serupa agar berani mencari kesempatan berasosiasi dengan sekolah alias klub nan masuk dalam sistem liga HPSL maupun Soccer Challenge.

"Kalau merasa punya bakat, jangan menunggu. Cari sekolah alias klub nan masuk sistem kejuaraan ini agar bisa dipantau. Sudah ada pemain dari Papua, Ternate, Banjarmasin, nan pindah demi mengejar kesempatan itu," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Jacksen F Tiago. Selama sepekan melakukan pemantauan berbareng Timo, dia mengaku terkesan dengan kualitas pemain nan tampil di putaran nasional.  Menurut mantan pembimbing Persipura Jayapura itu, keberadaan kejuaraan nan rutin menjadi modal krusial lantaran pemain mempunyai ruang untuk terus berkembang.

"Saya memandang banyak pemain nan potensinya luar biasa. Mereka memang belum siap sepenuhnya lantaran tetap dalam proses pembinaan, tetapi kualitas individunya sangat menarik. Tinggal gimana pembinaan dilakukan secara konsisten sampai mereka mencapai level timnas senior," kata Jacksen. (E-3)

Selengkapnya