Membatasi Gawai, Mengembalikan Kedalaman Belajar: Memahami SE Mendikdasmen Nomor 18/2026

4 jam yang lalu 3
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, mengeluarkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan ini datang di tengah kehidupan anak-anak nan semakin lekat dengan telepon seluler, media sosial, permainan digital, dan beragam aplikasi nan terus-menerus memperebutkan perhatian.

Surat info ini mudah disalahpahami sebagai larangan membawa gawai ke sekolah. Padahal, substansinya bukan pelarangan total, melainkan pembatasan penggunaan. Gawai tetap dapat digunakan untuk pembelajaran atas pengarahan guru, keadaan darurat, kebutuhan medis, aksesibilitas siswa penyandang disabilitas, transportasi, dan kebutuhan lain nan dapat dipertanggungjawabkan.

Artinya, pemerintah tidak sedang memusuhi teknologi. nan mau dikendalikan adalah penggunaan teknologi nan tidak tepat, tidak proporsional, dan mengganggu proses pendidikan. Teknologi tetap dibutuhkan, tetapi kudu ditempatkan sebagai perangkat pembelajaran, bukan sebagai penguasa perhatian anak.

PEMBELAJARAN DI ERA MEDSOS

Persoalan pendidikan hari ini sesungguhnya bukan kekurangan informasi. Anak-anak justru hidup dalam kelimpahan informasi. Dalam satu genggaman, mereka dapat menemukan pengetahuan, hiburan, percakapan, permainan, apalagi bumi nan seolah tidak berbatas. Namun, kelimpahan info tidak selalu melahirkan kedalaman pemahaman.

Anak dapat mengetahui banyak perihal dengan cepat, tetapi belum tentu bisa memahami satu persoalan secara utuh. Mereka mudah beranjak dari satu info ke info lain, tetapi semakin susah memperkuat membaca teks panjang, memikirkan masalah nan rumit, alias menyelesaikan tugas nan memerlukan ketekunan.

Ruang kelas pun berubah. Dahulu, gangguan belajar mungkin datang dari percakapan dengan kawan sebangku. Kini, sebuah layar mini dapat membawa siswa keluar dari ruang kelas tanpa kudu beranjak dari kursinya. Tubuhnya datang di depan guru, tetapi pikirannya beranjak ke pesan nan masuk, video pendek, permainan, alias media sosial.

Karena itu, pembatasan gawai pada dasarnya adalah upaya mengembalikan perhatian ke dalam proses belajar. Pendidikan memerlukan waktu untuk membaca, berpikir, bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, dan merefleksikan. Semua itu hanya mungkin terjadi ketika siswa mempunyai perhatian nan cukup.

SE DAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Di sinilah surat info ini berjumpa dengan pendapat Pembelajaran Mendalam. Pembelajaran Mendalam tidak sekadar mendorong siswa menemukan jawaban, tetapi memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan, memecahkan persoalan nyata, berdiskusi, bekerja sama, dan melakukan refleksi. Teknologi tentu dapat membantu proses tersebut. Namun, kehadiran gawai di ruang kelas tidak otomatis membikin pembelajaran menjadi modern. Tanpa tujuan pedagogis nan jelas, gawai hanya memindahkan distraksi dari luar sekolah ke dalam pembelajaran. Murid terlihat sibuk membuka layar, tetapi belum tentu sedang membangun pemahaman.

Surat info ini juga mengingatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan. Sekolah adalah ruang perjumpaan. Di sekolah, anak belajar berteman, mendengarkan, berbeda pendapat, bekerja sama, meminta maaf, menunggu giliran, dan memahami emosi orang lain.

Hari ini kita sering memandang anak-anak duduk bersama, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar. Waktu rehat nan semestinya menjadi ruang percakapan berubah menjadi waktu menatap gawai. Interaksi langsung berkurang, sementara bentrok di ruang digital justru terbawa masuk ke sekolah.

Karena itu, pembatasan gawai juga menjadi bagian dari upaya mengembalikan sekolah sebagai ruang sosial nan hidup. Anak-anak perlu kembali mengalami percakapan, permainan, kerja kelompok, olahraga, seni, dan beragam aktivitas nan mempertemukan mereka secara nyata.

Namun, kebijakan nan baik dapat kehilangan makna jika dilaksanakan secara keliru. Pembatasan tidak boleh berubah menjadi tindakan represif. Sekolah tidak semestinya menyita gawai tanpa prosedur, mempermalukan murid, alias memeriksa percakapan dan akun pribadi tanpa argumen nan dapat dipertanggungjawabkan. Surat info justru meminta sekolah menyusun tata kelola nan jelas, mulai dari sistem pengumpulan, penyimpanan, penggunaan terbatas, pemberian pengecualian, hingga pengembalian gawai kepada murid. Ketika sekolah meminta siswa menyerahkan gawainya, sekolah juga mengambil tanggung jawab atas keamanan perangkat tersebut.

PERAN GURU DAN KELUARGA

Keteladanan pembimbing menjadi bagian nan tidak kalah penting. Sulit meminta siswa meletakkan gawainya jika pembimbing sendiri sibuk membaca pesan saat mengajar. Anak-anak tidak hanya belajar dari tata tertib nan ditempel di dinding, tetapi juga dari perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Guru bukan sekadar pengawas gawai. Guru adalah pembimbing nan membantu siswa memahami kapan teknologi diperlukan, untuk tujuan apa digunakan, dan kapan kudu diletakkan. Kebijaksanaan digital tidak cukup diajarkan melalui nasihat, tetapi kudu ditunjukkan dalam praktik sehari-hari.

Keluarga juga tidak dapat menyerahkan seluruh persoalan kepada sekolah. Surat info ini mengenalkan prinsip 3S: screen time, screen zone, dan screen break. Orangtua perlu mengatur lama penggunaan layar, menetapkan tempat penggunaan gawai, dan membiasakan jarak dari perangkat digital. Sekolah hanya mengelola sebagian waktu anak. Kebiasaan digital justru lebih banyak dibentuk di rumah. Pembatasan di sekolah bakal kehilangan daya andaikan sepulang sekolah anak kembali tenggelam dalam layar tanpa pemisah dan tanpa pendampingan.

Pada akhirnya, anak-anak bakal tumbuh dalam bumi nan semakin digital. Pendidikan tidak mungkin menjauhkan mereka sepenuhnya dari teknologi. Tugas pendidikan adalah menolong mereka agar bisa menggunakan teknologi tanpa dikuasai olehnya.

Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 bakal berarti jika tidak berakhir sebagai patokan mengumpulkan telepon seluler pada pagi hari. Ia kudu menjadi aktivitas untuk mengembalikan perhatian, percakapan, kesehatan, dan kedalaman belajar ke dalam sekolah. Sebab masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa lama anak menatap layar, tetapi oleh seberapa dalam dia memahami pengetahuan dan kehidupan.

Selengkapnya