Memperkuat Peran Silver Economy di Era Penurunan Demografi

7 jam yang lalu 1
ARTICLE AD BOX
Memperkuat Peran Silver Economy di Era Penurunan Demografi (Dok. Pribadi)

INDONESIA sedang berdiri di persimpangan jalan perubahan struktural nan banget masif. Narasi tentang ‘bonus demografi’ nan selama ini diagung-agungkan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional mulai mendekati titik jenuhnya. Fenomena baru nan tidak bisa dihindari sekarang tengah mengetuk pintu peradaban kita: penuaan penduduk (ageing population). Seiring melandainya nomor kelahiran total dan meningkatnya usia angan hidup, potret struktur populasi kita bergeser secara signifikan.

KEKUATAN EKONOMI BARU

Kondisi makro ini menuntut perombakan radikal atas perspektif pandang kita terhadap golongan lanjut usia (lansia). Kaum senior tidak boleh lagi diposisikan secara pasif sebagai beban ketergantungan ekonomi alias beban fiskal negara. Sebaliknya, momentum transisi ini merupakan fajar baru bagi lahirnya kekuatan ekonomi baru nan dikenal sebagai silver economy alias ekonomi perak.

Secara makroekonomi, Indonesia bergerak teramat sigap menuju fase ageing society. BPS (2026) mencatat bahwa berasas hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) tahun 2025, proporsi masyarakat lansia (60 tahun ke atas) di Indonesia telah menembus nomor 11,97%. Sesuai standar demografi global, suatu negara resmi dikategorikan bersistem tua jika rasionya melampaui periode pemisah psikologis 10%.

Tren menua ini dipicu oleh peningkatan nomor angan hidup (UHH) nasional nan sekarang menyentuh rata-rata 74,15 tahun (IPM BPS 2024), berbanding terbalik dengan nomor kelahiran total (total fertility rate

) nan melandai ke nomor 2,13, artinya setiap wanita bakal melahirkan sekitar 2 anak secara rata-rata selama masa usia reproduksinya di 15-49 tahun (Supas 2025).

Pergeseran ini otomatis meningkatkan rasio ketergantungan lansia. Jika Indonesia tetap terjebak dalam pola pikir konvensional, kejadian ini niscaya memicu penyusutan produktivitas akibat mengecilnya angkatan kerja muda. Kita kudu tangkas meniru negara-negara maju nan sukses memitigasi penurunan populasi muda dengan mengoptimalkan golongan usia senior nan sehat, berkekuatan beli, dan tetap solid berkarya.

Ekonomi perak berkembang bukan lagi sekadar wacana utopis, melainkan ceruk pasar riil nan sangat masif. Kelompok masyarakat berumur di atas 50 tahun saat ini mempunyai karakter nan sangat berbeda dari generasi pendahulunya. Lansia modern condong lebih mandiri, mempunyai akumulasi aset finansial nan mapan dari hasil tabungan masa mudanya, serta adaptif terhadap teknologi.

Perkembangan ini memicu semakin menguatnya ekosistem upaya baru di sektor domestik. Kita menyaksikan bermunculannya industri teknologi pendukung kesehatan (health-tech), jasa pariwisata ramah lansia, produk nutrisi spesifik, hingga penemuan kediaman terpadu (senior living). Dinamika pasar baru ini terbukti membuka keran investasi segar dan menghidupkan sektor UMKM nan jeli menangkap kebutuhan populasi senior. Jumlah mereka diproyeksikan terus meningkat menuju perkiraan 65,82 juta jiwa pada momentum Indonesia Emas 2045.

TERUS BERKEMBANG

Pada saat bersamaan, produk-produk finansial dan perbankan berbasis silver economy terus berkembang sebagai respons meningkatnya kebutuhan para lansia bakal produk-produk tersebut nan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Di tengah menyempitnya proporsi masyarakat usia muda, silver economy datang sebagai penyelamat utama kesejahteraan para pensiunan. Program ekonomi ini mengedepankan konsep penuaan aktif (active ageing

), di mana lansia tidak dipaksa berakhir total dari aktivitas sosial-ekonomi hanya lantaran melewati pemisah usia pensiun umum nan kaku. Kesejahteraan pensiunan diperkuat melalui dua jalur utama. Pertama, jalur produktivitas lanjutan nan membuka ruang bagi lansia sehat untuk bertindak sebagai konsultan, mentor, alias wirausahawan. Partisipasi kerja nan elastis ini memberikan mereka pendapatan tambahan nan menjaga ketahanan finansial di atas biaya pensiun pokok.

Kedua, jalur kemandirian hidup. Ketersediaan ekosistem ekonomi perak memastikan para lansia mendapatkan akses perawatan, perlindungan kesehatan preventif, jasa finansial dan perbankan nan dapat meningkatkan kesejahteraan para lansia, dan organisasi sosial nan memadai. Langkah ini menjaga kualitas hidup mereka sekaligus meminimalkan akibat isolasi sosial di hari tua. Dengan demikian, lansia beralih bentuk dari konsumen agunan sosial menjadi tokoh ekonomi nan berdaya.

PELUANG EMAS

Peluang emas dari ekonomi perak ini tidak bakal terwujud secara otomatis tanpa adanya intervensi kebijakan nan strategis dan progresif dari pemerintah. Pijakan awalnya tertuang secara komprehensif dalam Laporan Kependudukan Indonesia oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN berbareng UNFPA tahun 2025 nan mengusung tema Penguatan lansia melalui ekonomi perak. Rekomendasi info ini kudu segera diterjemahkan ke dalam izin turunan nan konkret.

Langkah pertama, pemerintah perlu merumuskan kebijakan pasar tenaga kerja nan inklusif berupa insentif fiskal bagi perusahaan nan menyediakan skema kerja paruh waktu alias perjanjian skill bagi tenaga kerja senior nan tetap produktif.

Kedua, perlunya izin penguatan sistem agunan sosial dan investasi hari tua nan lebih elastis serta produk finansial dan perbankan nan dapat meningkatkan kesejahteraan, agar akumulasi kekayaan masyarakat selama usia muda dapat dikelola secara optimal menyongsong masa pensiun.

Ketiga, pemerintah kudu memfasilitasi kemudahan fiskal dan investasi bagi industri penunjang lansia, seperti insentif pajak bagi pembangunan prasarana publik dan akomodasi kesehatan nan ramah lansia.

Menurunnya pertumbuhan demografi bukanlah beban bagi perekonomian Indonesia di masa mendatang. Melalui penguatan silver economy, kita sedang mengubah tantangan struktural menjadi sebuah lompatan peradaban baru. Menghargai dan memberdayakan para senior di hari tua bukan lagi sekadar urusan moral kemanusiaan, melainkan sebuah strategi ekonomi nan pandai untuk memastikan Indonesia tetap tumbuh berkepanjangan secara inklusif.

Selengkapnya