Menaker Kawal Ketat Program Magang, Posisi Pekerjaan Ini Bakal Ditolak

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memastikan pemerintah bakal mengawasi secara ketat penyelenggaraan Program Magang Nasional 2026. Tak hanya menambah kuota peserta menjadi 150 ribu orang, pemerintah juga bakal menyaring posisi magang nan ditawarkan perusahaan agar tidak sekadar menjadi pekerjaan administratif, nan tidak sesuai dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi.


Yassierli mengatakan, Program Magang Nasional tahun ini mendapat tambahan kuota menjadi 150 ribu peserta, naik dari 100 ribu peserta pada tahun sebelumnya. Menurutnya, antusiasme perusahaan maupun lulusan perguruan tinggi terhadap program tersebut juga terus meningkat.


"Jadi alhamdulillah tahun ini kita sesuai dengan pengarahan Pak Presiden (Prabowo Subianto), kita dapat kuota untuk bisa 150.000 orang. Ya ini sesuatu nan luar biasa, tahun lampau 100.000 (orang) sekarang 150.000," kata Yassierli dalam Economic Updates CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026).


Ia mengungkapkan banyak perusahaan mulai menanyakan agenda pembukaan program, sementara minat dari lulusan perguruan tinggi juga semakin besar.


"Tadi saya sudah sampaikan hasil pertimbangan kita, antusiasme dari perusahaan sudah nanya-nanya tuh ke kami 'kapan dibuka lagi?'. Dan kemudian saya dengar juga adik-adik kita lulusan perguruan tinggi juga 'oke jika seperti ini menarik dong saya juga mau ikut' dan seterusnya. Insyaallah schedule kita magang itu bakal dimulai tanggal 10 Agustus," ujarnya.


Saat ini, kata dia, program memasuki tahap pendaftaran perusahaan. Selama dua pekan pertama Juli 2026, perusahaan dapat menawarkan posisi magang nan nantinya bakal dipilih peserta. Adapun pelamar baru dapat memilih lowongan pada 15-28 Juli 2026, sebelum perusahaan melakukan proses seleksi.


Yassierli menjelaskan, pemerintah juga membatasi jumlah peserta magang di setiap perusahaan. Kuota peserta maksimal hanya 20% dari jumlah tenaga kerja organik, agar program tersebut tidak disalahgunakan sebagai pengganti tenaga kerja tetap.


"Itu dibatasi ya maksimum 20% dari jumlah tenaga kerja organiknya. Jadi kami tidak mau juga 'karyawan kami rekrut 1.000' gitu ya, ini kebetulan lantaran ya semua duit sakunya ditanggung oleh pemerintah 'ya sudah sebanyak-banyaknya' juga tidak. Jadi kita kawal dari segi jumlah, kita kawal juga dari posisinya ya," ucap dia.


Selain membatasi jumlah peserta, Kementerian Ketenagakerjaan juga bakal melakukan penyaringan terhadap posisi magang nan diajukan perusahaan. Menurut Yassierli, posisi nan tidak sesuai dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi tidak bakal disetujui.


"Misal jadi apa, resepsionis? Kami katakan 'no' ya. Ini adalah lulusan perguruan tinggi S1, mereka dilatih untuk analytical thinking dan seterusnya, level kompetensi sekian, sehingga apa posisi magangnya kami bakal screening, termasuk kelak mereka bakal mengerjakan apa? Jadi perusahaan itu dia kudu daftar beserta dengan uraiannya," jelas Yassierli.


Ia menambahkan, pemerintah mau memastikan setiap peserta memperoleh pengalaman kerja nan relevan hingga berujung pada sertifikasi kompetensi.


"Bahkan, ujungnya kelak diharapkan anak magang ini bakal mendapatkan sertifikasi dalam kejuruan apa. Jadi kami kawal," ucapnya.


Di sisi lain, pemerintah juga menginginkan penyebaran peserta magang tidak hanya terpusat di Jakarta. Karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan menggandeng dinas ketenagakerjaan di beragam wilayah untuk mendorong lebih banyak perusahaan ikut berasosiasi dalam program tersebut.


"Ah kita mau kelak sebarannya itu merata. Jadi kita tidak mau kemudian numpuk di Jakarta gitu ya, lantaran kami mau program ini juga dirasakan manfaatnya oleh semua wilayah di Indonesia," ujar dia.


"Kami sorong teman-teman di Dinas Ketenagakerjaan 'ayo jika ada perusahaan-perusahaan nan memang memerlukan magang, ikut dong dalam program ini' sehingga kemudian kami bisa mengarahkan adik-adik kita ini untuk kemudian juga bisa menyebar terdistribusi dengan baik," sambungnya.


Yassierli pun optimistis jumlah perusahaan nan berasosiasi bakal meningkat pada tahun ini. Sebagai gambaran, sekitar 8.000 perusahaan dan lembaga telah berperan-serta pada penyelenggaraan perdana Program Magang Nasional tahun lalu.


"Tahun lampau itu sekitar 8.000 perusahaan dan lembaga nan terlibat, dan kita percaya bakal lebih banyak gitu ya, lantaran sekarang.. kemarin itu kan tahun pertama ya orang mungkin juga tetap wait and see 'ini apa bener nih pemerintah mau bayar ini jangan-jangan nggak' gitu ya, tapi ketika memandang bahwa rupanya riil saya kita percaya demand itu bakal banyak, sehingga kemudian adik-adik kita punya pilihan lebih banyak juga nanti," pungkas Yassierli.

(hoi/hoi)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya