Mengenal Pickaxe Mountain, Gunung Nuklir Iran yang Bikin Trump Waswas

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menakut-nakuti bakal menyerang Pickaxe Mountain, akomodasi nuklir bawah tanah Iran nan berada di dekat kompleks pengayaan uranium Natanz. Meski keberadaannya telah lama menjadi sorotan, hingga sekarang hanya sedikit info nan diketahui mengenai akomodasi nan diyakini terkubur nyaris 100 meter di dalam gunung tersebut.

Trump menegaskan pemerintahannya tetap berkomitmen mencegah Iran mempunyai senjata nuklir. Ia apalagi menyebut militer AS bakal "memukul wilayah itu dalam waktu dekat, dan sangat berat". Namun, Trump juga mengakui intelijen AS tidak menemukan aktivitas di letak tersebut.

"Mereka tidak berkinerja baik dengan situasi nuklir mereka. Setiap kali kita mendengar tentang perihal itu, kita meledakkannya. Kami mungkin bakal memberi Pickaxe kesempatan dalam waktu nan relatif dekat," ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (23/7/2026).

Pickaxe Mountain, nan di Iran dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, berada sekitar 220 kilometer di selatan Teheran dan hanya sekitar 2 kilometer dari akomodasi nuklir Natanz. Kompleks bawah tanah ini mulai dibangun pada 2020 setelah kejadian sabotase nan merusak akomodasi Natanz.

Saat itu, mantan Kepala Organisasi Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi mengatakan negaranya membangun akomodasi nan "lebih modern, lebih besar, dan lebih komprehensif di jantung gunung dekat Natanz" untuk memproduksi sentrifugal canggih.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengatakan Iran memang telah menyampaikan rencana memindahkan sebagian aktivitas nuklirnya ke bawah tanah.

"Ini adalah bagian dari niat mereka nan cukup sistematis untuk menempatkan akomodasi paling sensitif mereka di bawah tanah," kata Grossi.

Berdasarkan kajian gambaran satelit Institute for Science and International Security (ISIS), kompleks tersebut mempunyai dua pasang pintu masuk terowongan dan baru saja dilengkapi tembok pengaman. Sejak serangan AS dan Israel meningkat, salah satu akses terowongan apalagi diperkuat dan sebagian ditutup untuk menghalang kendaraan darat masuk ke lokasi.

Peneliti Foreign Policy Research Institute, Sam Lair, menilai penguatan pintu masuk terowongan bakal membikin akomodasi itu lebih susah dihancurkan menggunakan peledak penghancur bunker. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan Iran terus memperkuat pertahanan akomodasi meski ancaman serangan terus meningkat.

Laporan ISIS juga menyebut akomodasi Pickaxe Mountain diperkirakan belum beraksi penuh lantaran pembangunan tetap berlangsung. Meski demikian, lembaga tersebut menilai Iran berpotensi memanfaatkan kompleks itu sebagai letak perakitan sentrifugal dalam skala lebih mini nan dapat mendukung program nuklirnya andaikan pembangunan selesai.

Para mahir menilai akomodasi nan berada sangat dalam di bawah gunung itu susah dihancurkan melalui serangan udara, apalagi menggunakan peledak penghancur bunker paling canggih milik AS. Karena itu, ISIS menilai operasi darat alias tindakan sabotase kemungkinan lebih efektif, meski serangan udara dengan senjata penembus tanah tetap berkesempatan mengeksploitasi titik-titik lemah tertentu.

Hingga sekarang belum ada indikasi Trump bakal mengerahkan pasukan darat ke Iran. Namun, ancaman terbaru terhadap Pickaxe Mountain menunjukkan akomodasi tersebut tetap menjadi salah satu sasaran strategis dalam meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya