Jakarta, CNBC Indonesia - Industri elektronik nasional tengah menghadapi tekanan nan membikin tingkat utilisasi pabrik hanya berada di kisaran 65%. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa permintaan pasar domestik belum betul-betul pulih, sementara pelaku upaya juga kudu menghadapi beragam tantangan secara bersamaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) Deny Irawan mengatakan rendahnya utilisasi industri tidak bisa dipandang sebagai persoalan tunggal. Menurutnya, pelemahan daya beli masyarakat, perubahan perilaku konsumen, derasnya produk impor, hingga tingginya suku kembang menjadi aspek nan saling berangkaian dan menekan industri elektronik nasional.
"Dari perubahan perilaku konsumen, dari daya belinya turun, lampau kemudian ini juga di sisi lain nan memberatkan mungkin ada beberapa faktor-faktor dari banyaknya produk-produk impor nan masuk itu juga membikin pandangan industri kita menjadi sangat tertekan," kata Deny kepada CNBC Indonesia, Senin (27/7/2026).
Kondisi di lapangan menunjukkan permintaan masyarakat tetap bergerak fluktuatif. Akibatnya, perusahaan kudu lebih berhati-hati dalam mengatur produksi lantaran belum memandang adanya kepastian pemulihan konsumsi rumah tangga.
"Berbicara tentang siklus jual beli dalam proses industri elektronik prosesnya tetap fluktuatif, jadi tetap berkaca sama permintaan dari pembelian daya masyarakat. Saya juga sebetulnya jika memandang dari sisi lapangan alias realitasnya pembeli kita itu sebetulnya biasanya agak sedikit menunda," ujarnya.
Selain perubahan perilaku konsumen, Deny menilai tekanan terhadap industri juga berasal dari kombinasi beberapa aspek ekonomi nan terjadi secara bersamaan. Menurutnya, daya beli nan melemah, tingginya biaya akibat suku bunga, dan persaingan dengan produk impor membikin ruang mobilitas industri semakin sempit.
"Ketiganya berangkaian lantaran tidak bisa dipisahkan antara permintaan daya beli dengan produksi nan memang dirasakan oleh industri ditambah juga suku kembang nan terus naik," katanya.
Ia mengingatkan kondisi tersebut dapat memicu akibat nan lebih besar andaikan tidak segera diantisipasi. Menurutnya, ketika permintaan terus melemah, perusahaan tidak mempunyai banyak pilihan selain menyesuaikan volume produksi agar operasional tetap berjalan.
"Hal nan pertama untuk terkena dampaknya adalah penurunan dari penjualan. Dan ini bakal mengakibatkan industri elektronik juga tertekan. Ketika permintaan melemah perusahaan tentu bakal melakukan penyesuaian produksi," ujarnya.
Meski demikian, Deny tetap optimistis industri elektronik tetap mempunyai kesempatan untuk bangkit andaikan pemerintah dan pelaku upaya dapat memperkuat kerjasama dalam menyusun kebijakan nan mendukung suasana usaha. Ia meyakini utilisasi industri tidak bakal memperkuat di level saat ini andaikan langkah-langkah tersebut segera dilakukan.
"Kita optimistis bahwa ini kelak bisa tetap terus tumbuh tidak stagnan di nomor 65% ini. Hal ini tuh pasti tidak bakal stagnan di tempat, pasti bakal bisa terus tumbuh. Saya optimistis di situ sih," ujar Deny.
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·