Ilustrasi.(Magnific)
META Platforms sekarang sangat berjuntai pada Wall Street untuk mendanai ambisi besar mereka dalam pengembangan kepintaran buatan (AI). Namun, langkah ini dilakukan di tengah kondisi pasar saat para pemberi pinjaman mulai merasa jenuh dan selektif.
Gelombang penarikan utang oleh perusahaan teknologi raksasa tahun ini memicu kelelahan di kalangan penanammodal obligasi, nan pada akhirnya mendorong kenaikan biaya modal di seluruh industri. Pada Senin (27/7), para penanammodal menuntut imbal hasil (yield) nan lebih tinggi untuk obligasi proyek pusat data baru di El Paso, Texas, nan disewa oleh Meta, dibandingkan dengan proyek serupa tahun lalu.
Kekhawatiran bakal membanjirnya utang mengenai AI semakin meningkat, terutama setelah perkiraan pengeluaran garang dari Alphabet (Google) pekan lampau memicu tindakan jual saham teknologi. Hal ini turut menekan nilai obligasi dari perusahaan besar lain seperti Microsoft dan Amazon.com dalam beberapa hari terakhir.
Perlombaan Senjata AI nan Mahal
Menurut info Bank of America Global Research, pasokan obligasi baru dari perusahaan AI mencapai US$270 miliar pada awal Juli. Angka ini nyaris dua kali lipat dari total biaya nan dihimpun sepanjang tahun 2025. Meski penanammodal mulai menunjukkan tanda-tanda 'gangguan pencernaan' terhadap utang baru, ledakan pusat info tampaknya bakal terus menciptakan lebih banyak utang, meskipun dengan biaya nan lebih mahal.
Eksekutif Meta dilaporkan memberi tahu para bankir dan manajer investasi bahwa mereka perlu menghimpun biaya hingga ratusan miliar dolar untuk mendukung pembangunan prasarana AI. Meta saat ini sedang dalam pembicaraan dengan firma investasi seperti Blackstone untuk pendanaan tambahan. Di sisi lain, Nvidia juga dikabarkan tengah berbincang dengan OpenAI untuk menyediakan support biaya sekitar US$250 miliar guna membiayai proyek pusat info raksasa di Ohio.
"Pasar memperkirakan pembangunan bakal terus berlanjut, hanya dengan nilai nan lebih tinggi," ujar Neha Khoda, Kepala Strategi Kredit AS di Bank of America.
Strategi Pendanaan Kreatif Meta
Selama bertahun-tahun, Meta nyaris tidak pernah berutang berkah upaya iklan nan menghasilkan arus kas melimpah. Namun, dalam sembilan bulan terakhir, aktivitas peminjaman mereka melonjak tajam. Pada Oktober lalu, Meta menghimpun US$30 miliar dan diikuti dengan penjualan obligasi baru senilai US$25 miliar pada April.
Meta juga menggunakan strategi imajinatif untuk menjaga agar utang miliaran dolar tersebut tidak membebani neraca finansial perusahaan secara langsung (off-balance sheet):
- Proyek Hyperion (Louisiana): Terstruktur sebagai upaya patungan dengan Blue Owl Capital. Dana kelolaan Blue Owl menginvestasikan US$3 billion untuk 80% kepemilikan, sementara entitas holding menerbitkan obligasi US$27 miliar.
- Proyek El Paso (Texas): Dimiliki 80% oleh biaya kelolaan BlackRock. Penjualan obligasi senilai US$12,55 miliar untuk proyek ini mempunyai yield sekitar 7,5%, alias 2,875 poin persentase di atas surat utang Treasury 10 tahun.
Untuk menarik minat investor, Meta memberikan agunan nilai residu (residual-value guarantee). Jaminan ini memastikan pemegang obligasi tetap dibayar jika Meta memilih untuk tidak memperbarui sewa alias menghentikannya lebih awal, sehingga proyek-proyek tersebut mendapatkan ranking investasi (investment-grade) dari S&P dan Fitch.
Tim Khusus Meta Compute
Upaya penggalangan biaya masif ini dipimpin oleh tim unik berjulukan Meta Compute. Divisi ini dipimpin oleh Dina Powell McCormick (mantan pejabat Gedung Putih dan veteran Goldman Sachs), Daniel Gross, dan Santosh Janardhan. Mereka ditugaskan langsung oleh Mark Zuckerberg untuk memetakan strategi pengamanan daya komputasi dalam skala raksasa.
Tim ini bekerja sama erat dengan CFO Meta, Susan Li, dalam urusan pembiayaan. Powell McCormick dilaporkan bertemu dengan tokoh-tokoh besar Wall Street seperti Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, dan Bruce Flatt dari Brookfield untuk mengamankan support finansial.
Meskipun biaya modal meningkat akibat permintaan modal nan ekstrem--serupa dengan lonjakan nilai semikonduktor dan material bangunan--perusahaan AI saat ini lebih memilih bayar kembang lebih mahal daripada mengambil akibat keterlambatan bangunan dalam perlombaan teknologi dunia ini. (The Wall Street Journal/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·