Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan bukti tanda ekonomi Indonesia tetap kuat. Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh info penjualan kendaraan hingga konsumsi listrik.
Data-data ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak terganggu oleh perkembangan terkini di pasar dunia nan dibayangi ketidakpastian.
"Indikator ekonomi, seperti penjualan kendaraan bermotor, tetap tumbuh dan mencerminkan daya beli nan terjaga. Penjualan mobil terus menunjukkan tren positif dan daya beli nan terjaga," kata Purbaya di GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026).
Selain itu, Purbaya memaparkan mobilitas upaya juga membaik. Ini tercermin dari penjualan BBM baik untuk transportasi dan industri nan konsisten ekspansif baik untuk kebutuhan konsumsi dan produksi. Kemudian, konsumsi listrik rumah tangga dan industri pun terpantau mengalami peningkatan.
"Saya mengawasi parameter ekonomi dalam pedoman bulanan dengan banget hati-hati dan selalu siap memberikan kebijakan jika ada event nan menunjukkan ada kelemahan di perekonomian," paparnya.
Khusus penjualan mobil, dia mengungkapkan angkanya sempat tumbuh 52% pada Maret 2026, lampau turun pada April 2026. Purbaya mengaku deg-degan dan bertanya-tanya ada apa dengan ekonomi.
"Saya deg-degan. Apa nan terjadi dengan perekonomian? Motor juga sama, turun pada April. April-Mei turun ke bawah. Juni agak naik. Itu bukan terjadi kebetulan," paparnya.
Purbaya pun langsung mengecek likuiditas di perbankan. Menurutnya, penempatan duit pemerintah sebesar Rp 200 triliun pada akhir September 2025 telah bekerja dengan cukup baik. Terbukti penjualan mobil meningkat, meski ada perlambatan pada April 2026.
Purbaya pun mendapatkan berita bahwa perbankan mengalami ancaman likuiditas. Dia langsung turun tangan dan memenuhi kemauan perbankan.
"Anda mau apa? Saya mau pemerintah terus meletakkan duit di perbankan. Ya sudah jika gitu, dari duit saya nan ada di BI nan nganggur," tegasnya.
Oleh lantaran itu, Purbaya memutuskan menyimpan kembali saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah di bank Himbara. Dengan demikian, total penempatan biaya SAL pemerintah di bank Himbara telah mencapai sekitar Rp 400 triliun. Total biaya tersebut meningkat setelah penambahan berjenjang (dari Rp170 triliun, ditingkatkan jadi Rp200 triliun. Kemudian, kembali ditambah masing-masing Rp100 triliun.
Dengan penempatan hingga Rp 400 triliun, semestinya permintaan untuk kendaraan, baik motor dan mobil kembali meningkat.
"Harusnya demand untuk mobil dan motor mulai recover," ujarnya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·