Embung di Kabupaten Blora kering akibat kemarau, ribuan hektare lahan pertanian terancam kandas panen.(MI/Akhmad Safuan)
KEKERINGAN akibat tandus berkekuatan besar (El Nino Godzilla) semakin nyata, Kementerian Pertanian menyebut terdapat 30.000 hektare lahan pertanian terdampak hingga dilakukan sejumlah penanganan untuk mencegah gagal panen.
Pemantauan Media Indonesia Jumat (7/8) kekeringan berjalan di Jawa Tengah akibat tandus berkekuatan besar semakin dirasakan oleh penduduk di 37 daerah, selain kesulitan air bersih nan kian meluas dan juga ancaman kandas panen lantaran sawah tidak dapat pasokan air menjadi pemandangan merata.
Selain support air bersih terus digelontorkan di ratusan 281 desa di 134 kecamatan pada 27 kabupaten/kota di Jawa untuk 103.676 family (343.082 jiwa) terdampak, area sawah kekeringan juga meningkat seiring merosotnya volume air di sungai, bendungan, waduk dan embung hingga tidak mempu naik ke sawah.
"Sudah 50 persen dari 78 embung di wilayah ujung timur Jawa Tengah ini kering, sehingga ribuan hektare sawah tidak dapat pasokan air, " kata Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kabupaten Blora Surat.
Tidak hanya sawah nan tidak mendapat pasokan air, lanjut Surat, mengeringnya puluhan embung tersebut juga mengganggu kesiapan air baku hingga mengganggu kesiapan air bersih di sejumlah area di Kabupaten Blora, sehingga puluhan desa di sejumlah kecamatan terus digelontorkan support air bersih.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal Pandu Rapriat Rogojati mengatakan akibat tandus ini, sekitar 200 hektare sawah di wilayah ini nan mempunyai potensi terdampak kekeringan, sehingga perihal ini menjadi perhatian serius lantaran dikhawatirkan mengalami kandas panen lantaran kekurangan pasokan air.
"Kita telah diantisipasi melalui inventarisasi kebutuhan sarana dan prasarana pertanian nan bakal diusulkan kepada pemerintah pusat," ujar Pandu Rapriat Rogojati.
Demikian juga diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shofiah, bahwa akibat tandus ini setidaknya ada 2.134 hektare lahan persawahan di wilayah ini dalam kondisi kritis, sehingga berupa mengoptimalkan sumber air nan tersisa untuk menyelamatkan tanaman pangan dari ancaman puso.
Masih Aman
Sementara itu sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman usai perbincangan menyambut masa pengenalan mahasiswa baru di Muladi Dome, kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Kamis (6/8) mengungkapkan terdapat lahan pertanian seluas 30.000 hektare nan saat ini terdampak kekeringan.
Menghadapi tandus berkekuatan besar (El Nino Godzilla), ungkap Andi Amran Sulaiman, Kementantelah menyiapkan sejumlah penanganan di sektor pertanian ialah optimasi lahan (oplah), penanaman bibit tahan kekeringan dan pompanisasi. "Jauh sebelumnya kita sudah siapkan pompanisasi, irigasi, oplah sampai bibit tahan kekeringan, " ujarnya.
Meskipun jumlah luasan lahan terdampak kekeringan mencapai 30.000 hektare, menurut Andi Amran Sulaiman, namun prosentasenya hanya 0,001-0,003 persen dari keseluruhan lahan pertanian nan ada, sehingga dipastikan pasokan beras untuk kebutuhan program swasembada pangan tetap mencukupi hingga tahun depan.
"Insyallah kesiapan pangan seperti beras dan jagung tetap kondusif hingga tahun depan, " tambahnya. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·