Musim Kemarau Meluas, BNPB Catat Bencana Kekeringan Dominasi Sejumlah Wilayah

1 hari yang lalu 4
Musim Kemarau Meluas, BNPB Catat Bencana Kekeringan Dominasi Sejumlah Wilayah Ilustrasi: Warga memotong jerami untuk pakan ternak di persawahan nan mengering(Antara)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan menjadi musibah nan paling dominan terjadi di beragam wilayah selama periode 18-19 Juli 2026, seiring meningkatnya akibat musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Selain kekeringan, BNPB juga melaporkan kebakaran rimba dan lahan (karhutla), banjir bandang di Sumatra Barat, serta bentrok sosial di Flores Timur.

Dalam laporan BNPB menyebut kekeringan telah berakibat pada ribuan penduduk di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebanyak 870 kepala family (KK) di Desa Sumberjeruk dan Desa Sumberpinang mengalami kesulitan memperoleh air bersih. BPBD setempat telah menyalurkan 9.000 liter air bersih pada Sabtu (18/7).

Sementara di Kabupaten Pasuruan, kekeringan melanda tiga desa dengan total 615 KK terdampak. BPBD mendistribusikan support air bersih ke wilayah terdampak menggunakan dua ritase truk tangki.

Di Jawa Tengah, kekeringan menyebabkan 10.688 penduduk di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, mengalami kesulitan air bersih akibat menurunnya debit sumber air. 

Sejak pertengahan Juni hingga 18 Juli, BPBD Klaten telah menyalurkan 285 tangki alias sekitar 1,43 juta liter air bersih. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, dan Pemalang.

Sementara itu, akibat kekeringan di Kabupaten Bogor terus meluas hingga mencakup 33 desa di 17 kecamatan dengan total 43.451 jiwa terdampak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan status darurat musibah kekeringan dan karhutla nan bertindak sejak 1 Juli hingga 30 September 2026.

BPBD Kabupaten Bogor pada Sabtu (18/7) menyalurkan sedikitnya 40 ribu liter air bersih ke sejumlah desa di Kecamatan Kemang, Ciampea, Jasinga, Leuwisadeng, dan Tenjo.

Selain kekeringan, BNPB juga memantau perkembangan karhutla di sejumlah daerah. Di Kabupaten Aceh Barat, kebakaran lahan seluas sekitar empat hektare terjadi sejak Jumat (17/7). 

Hingga Sabtu (18/7), tim campuran BPBD dan pemadam kebakaran sukses mengendalikan sekitar 95% kebakaran di Gampong Gunong Kleng, sementara api di Gampong Lapang tetap dalam proses penanganan.

Di luar musibah hidrometeorologi kering, BNPB juga mencatat banjir bandang di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada Sabtu (18/7) malam akibat hujan deras dan pendangkalan Sungai Batang Tumayo. Sebanyak 90 KK terdampak dan 450 penduduk sempat mengungsi sebelum air berangsur surut.

BNPB juga menerima laporan bentrok sosial di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, nan menyebabkan tiga orang meninggal dunia, tujuh orang luka-luka, serta merusak 20 rumah, satu gedung usaha, dan satu sepeda motor. Aparat keamanan berbareng pemerintah wilayah telah melakukan upaya pengamanan dan mediasi untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi akibat musim kemarau.

"Masyarakat diimbau mengisi persediaan air saat pasokan tetap tersedia, menggunakan air secara bijak, memperbaiki kebocoran saluran air, serta memanfaatkan kembali air nan tetap layak digunakan," kata Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Senin (20/7).

Ia juga mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai potensi musibah lain, termasuk gempa bumi, dengan menyiapkan tas siaga musibah dan terus memantau info resmi dari BNPB, BPBD, maupun BMKG.

(P-4)

Selengkapnya