NASA Gunakan AI untuk Prediksi Badai Matahari Sebelum Mengancam Bumi

3 jam yang lalu 6
NASA Gunakan AI untuk Prediksi Badai Matahari Sebelum Mengancam Bumi Ilustrasi(Doc NASA)

AKTIVITAS Matahari tidak pernah betul-betul berhenti. Selain memancarkan angin surya secara terus-menerus, bintang pusat Tata Surya itu juga sesekali melepaskan letusan besar nan dapat mengganggu lingkungan antariksa di sekitar Bumi. 

Kini, para intelektual mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca tanda-tanda gangguan tersebut lebih sigap sehingga potensi dampaknya terhadap teknologi modern dapat diantisipasi lebih dini.

NASA menjelaskan bahwa angin besar geomagnetik terjadi ketika partikel bermuatan dari Matahari, termasuk nan berasal dari coronal mass ejection (CME), menghantam magnetosfer Bumi.

Dampaknya dapat memengaruhi satelit, sistem navigasi, komunikasi radio, hingga jaringan listrik andaikan intensitasnya cukup kuat.

AI Membantu Membaca Ancaman dari Matahari

Salah satu teknologi nan dikembangkan adalah DAGGER (Deep Learning Geomagnetic Perturbation). 

Model berbasis deep learning ini dikembangkan melalui Frontier Development Lab, kerjasama nan melibatkan NASA, U.S. Geological Survey (USGS), dan Departemen Energi Amerika Serikat.

Menurut NASA, DAGGER menganalisis info angin surya dari sejumlah misi antariksa, seperti ACE, Wind, IMP-8, dan Geotail, kemudian menggabungkannya dengan pengamatan gangguan geomagnetik dari stasiun di beragam bagian Bumi. 

Dari laporan tersebut, model dapat memperkirakan tingkat gangguan geomagnetik di beragam wilayah sekitar 30 menit sebelum dampaknya terjadi.

Keunggulan lain DAGGER adalah kemampuannya menghasilkan prediksi dunia dalam waktu kurang dari satu detik. 

Dengan pembaruan nan cepat, sistem ini dapat membantu operator satelit, perusahaan telekomunikasi, maupun pengelola jaringan listrik mengambil langkah mitigasi sebelum angin besar geomagnetik memengaruhi prasarana penting.

SEPNET Prediksi Peluang Partikel Energi Matahari

Selain DAGGER, NASA melalui Community Coordinated Modeling Center (CCMC) juga mencantumkan model AI terbaru berjulukan SEPNET.

Berbeda dengan DAGGER nan berfokus pada gangguan geomagnetik di Bumi, SEPNET dirancang untuk memprediksi kesempatan terjadinya peristiwa Solar Energetic Particle (SEP) nan melampaui 10 pfu (proton berenergi ≥10 MeV) dalam 24 jam ke depan.

Model ini memanfaatkan parameter magnetogram Matahari dari SDO/HMI SHARP serta info suar Matahari dari katalog SWPC. 

Hasil prediksinya berupa nilai probabilitas, tingkat ketidakpastian, dan parameter all-clear nan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pemantauan cuaca antariksa.

AI Bukan Peramal, Melainkan Sistem Peringatan Dini

Meski menawarkan keahlian prediksi nan lebih cepat, NASA menegaskan bahwa model AI bukan perangkat untuk memastikan kapan angin besar Matahari besar bakal terjadi.

Dalam pengarsipan SEPNET disebutkan bahwa kecermatan prediksi berjuntai pada kesiapan info pengamatan Matahari dan katalog suar nan digunakan. 

Selain itu, model dilatih menggunakan info historis sehingga performanya dapat berubah ketika menghadapi aktivitas Matahari nan tidak biasa. AI juga tidak memprediksi waktu puncak maupun intensitas maksimum suatu peristiwa SEP, melainkan hanya menghitung kesempatan kejadiannya.

Karena itu, hasil prediksi AI lebih tepat dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini. Informasi tersebut memberi waktu bagi pengelola satelit, penerbangan, telekomunikasi, hingga jaringan listrik untuk menyiapkan langkah mitigasi sebelum akibat cuaca antariksa mencapai Bumi.

Sumber: NASA, NASA (CCMC).

Selengkapnya