ilustrasi(NASA)
Penelitian terbaru NASA mengungkap bahwa objek 1998 SH2, nan selama ini diklasifikasikan sebagai asteroid dekat Bumi, rupanya mempunyai karakter komet. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tetap banyak objek di Tata Surya nan belum sepenuhnya dipahami, terutama barang langit nan mempunyai sifat di antara asteroid dan komet.
Melalui kombinasi pengamatan presisi, kajian orbit, dan support teknologi observasi generasi baru seperti Near-Earth Object (NEO) Surveyor, NASA berambisi dapat mengidentifikasi lebih banyak objek nan selama ini luput dari pengamatan. Upaya tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman ilmiah mengenai perkembangan barang langit, tetapi juga memperkuat sistem planetary defense melalui penemuan awal terhadap objek dekat Bumi nan berpotensi menimbulkan akibat di masa mendatang.
Jejak Orbit nan Mengungkap Identitas Sebenarnya
Sejak ditemukan pada 1998, 1998 SH2 diklasifikasikan sebagai asteroid lantaran tidak memperlihatkan ekor maupun koma. Namun, ketika melintas sekitar 3 juta kilometer dari Bumi pada Agustus 2025, pengamatan melalui sistem radar Deep Space Network (DSN) NASA menunjukkan posisinya tidak sesuai dengan prediksi orbit berasas pengaruh gravitasi Matahari dan planet-planet.
Untuk mengetahui penyebabnya, para peneliti menggunakan teknik astrometri optik guna mengukur posisi objek dengan tingkat presisi nan sangat tinggi. Hasil kajian menunjukkan adanya gangguan non-gravitasi pada lintasan 1998 SH2.
Menurut intelektual NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), Davide Farnocchia, gangguan tersebut mengindikasikan bahwa objek mengeluarkan semburan gas dalam jumlah nan sangat mini akibat pemanasan Matahari terhadap es nan bercampur dengan material batuan. Aktivitas tersebut merupakan salah satu karakter komet, meskipun jumlah gas dan debu nan dilepaskan sangat sedikit sehingga ekor dan komanya nyaris tidak terlihat.
Petunjuk Baru bagi Pertahanan Planet
Penelitian ini juga memberikan petunjuk baru mengenai golongan barang langit nan dikenal sebagai komet gelap (dark comets). Objek-objek tersebut menunjukkan gangguan pada lintasannya layaknya komet, tetapi tidak mempunyai ekor alias pelepasan gas nan mudah diamati, sehingga sering kali tampak seperti asteroid biasa.
Para peneliti menilai sebagian komet gelap kemungkinan merupakan komet nan aktivitasnya terlalu lemah untuk dideteksi melalui pengamatan konvensional. Temuan ini dinilai krusial bagi pengembangan sistem pertahanan planet. Semakin jeli intelektual mengenali karakter suatu objek, semakin baik pula keahlian mereka memprediksi perubahan orbit dan menghitung potensi akibat tabrakan.
NEO Surveyor: Mata Baru NASA di Antariksa
Untuk mendukung upaya identifikasi ini, NASA tengah mengembangkan Near-Earth Object (NEO) Surveyor, teleskop antariksa inframerah pertama nan dirancang unik untuk mendeteksi asteroid dan komet nan susah ditemukan. Berbeda dengan teleskop optik, NEO Surveyor bakal mendeteksi panas nan dipancarkan barang langit.
Teknologi ini memungkinkan teleskop menemukan:
- Asteroid berwarna gelap nan susah memantulkan cahaya.
- Komet dengan tingkat aktivitas nan sangat lemah.
- Objek nan berada di dekat arah Matahari nan biasanya menyilaukan teleskop Bumi.
Misi nan dijadwalkan meluncur pada September 2027 tersebut diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat keamanan Bumi sekaligus memperluas katalog objek dekat Bumi nan tetap misterius. (NASA/E-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·