NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi

1 hari yang lalu 4
ARTICLE AD BOX

loading...

Achmad Baha’ur Rifqi, Intelektual Muda NU Presidium/Nasional BEM PTNU Se-Nusantara. Foto/Dok. SindoNews

Achmad Baha’ur Rifqi
Intelektual Muda NU
Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara

MEMASUKI abad kedua perjalanan pengabdiannya, Nahdlatul Ulama (NU) berada pada sebuah persimpangan sejarah nan menentukan. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, apalagi di dunia, NU dihadapkan pada tantangan nan semakin multidimensional. Perubahan geopolitik global, disrupsi teknologi, transformasi ekonomi digital, krisis sosial, hingga dinamika kehidupan berbangsa menuntut NU tidak hanya bisa mempertahankan identitas keislaman dan kebangsaannya, tetapi juga menghadirkan model kepemimpinan nan adaptif, profesional, dan visioner.

Dalam konteks tersebut, regenerasi kepemimpinan tidak lagi cukup dimaknai sebagai pergantian figur semata. NU memerlukan transformasi kualitas kepemimpinan nan bisa menjembatani nilai-nilai luhur pesantren dengan tuntutan tata kelola organisasi modern. Tradisi dan modernitas bukanlah dua kutub nan saling bertentangan, melainkan dua kekuatan nan kudu dipadukan agar NU tetap menjadi lokomotif peradaban Islam nan relevan di setiap zaman.

Sejak didirikan, pesantren telah menjadi fondasi utama pembentukan karakter kepemimpinan NU. Dari lingkungan pesantren lahir ulama, cendekiawan, pejuang kemerdekaan, negarawan, dan pemimpin masyarakat nan menjadikan ilmu, akhlak, serta pengabdian sebagai orientasi utama perjuangan. Modal sosial dan moral tersebut merupakan kekuatan historis nan tidak boleh tercerabut dari perjalanan NU.

Namun, kompleksitas tantangan abad ke-21 menuntut kompetensi nan lebih luas. Kepemimpinan berbasis pesantren perlu diperkaya dengan kapabilitas manajerial, tata kelola organisasi nan profesional, penguasaan teknologi, keahlian membangun jejaring strategis, serta kecakapan dalam mengelola sumber daya secara efektif dan akuntabel. Di era modern, legitimasi moral kudu melangkah beriringan dengan kapabilitas kelembagaan agar organisasi bisa menjawab kebutuhan umat secara konkret.

Selengkapnya