PBB Desak Evakuasi 6.000 Pelaut yang Terjebak di Selat Hormuz

5 jam yang lalu 5
PBB Desak Evakuasi 6.000 Pelaut nan Terjebak di Selat Hormuz Kawasan Selat Hormuz.(Dok. Google Earth)

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak negara-negara nan terlibat dalam konflik Timur Tengah segera memfasilitasi pemindahan sekitar 6.000 pelaut nan tetap terjebak di Selat Hormuz. Ribuan awak kapal itu dinilai menghadapi krisis kemanusiaan nan semakin memburuk akibat eskalasi perang di kawasan.

Seruan tersebut disampaikan Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk melalui ahli bicaranya, Shabia Mantoo, pada Jumat (24/7). Menurut PBB, para pelaut nan berada di ratusan kapal belum dapat dievakuasi meski sempat terjadi gencatan senjata.

Berdasarkan info Organisasi Maritim Internasional (IMO), sedikitnya 6.000 pelaut tetap berada di Selat Hormuz dan belum bisa meninggalkan wilayah tersebut.

Mantoo mengatakan seluruh pihak nan bertikai kudu segera menjamin keselamatan para awak kapal, termasuk membuka jalur kondusif agar mereka dapat dievakuasi dan dipulangkan ke negara asal.

"Pihak-pihak nan terlibat bentrok kudu segera bekerja sama untuk memfasilitasi jalur kondusif bagi para pelaut nan terjebak agar dapat dievakuasi dan turun dari kapal dengan selamat, sekaligus memastikan pengiriman pasokan penting," ujar Mantoo dalam konvensi pers di Jenewa.

PBB menegaskan kapal sipil tidak boleh menjadi sasaran serangan lantaran mendapat perlindungan berasas norma humaniter internasional.

"Serangan terhadap kapal sipil tidak dapat diterima dan kudu dihentikan. Kapal-kapal tersebut dilindungi oleh norma humaniter internasional," tegasnya.

Selain mendesak negara-negara nan terlibat konflik, komite HAM PBB juga meminta pemerintah, perusahaan pelayaran, dan seluruh pihak mengenai segera meningkatkan perlindungan terhadap para pelaut nan tetap terjebak.

Perlindungan tersebut mencakup pemberian support konsuler, pasokan kebutuhan pokok, hingga percepatan proses pemindahan dan repatriasi.

Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran pada Jumat. Aksi tersebut merupakan respons atas serangan golongan Houthi nan didukung Teheran terhadap kapal-kapal tanker minyak di Laut Merah.

Eskalasi bentrok itu mendorong nilai minyak mentah bumi menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Amerika Serikat menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Namun Iran terus meningkatkan tekanan terhadap kapal-kapal nan melintasi jalur tersebut. (AFP/H-3)

Selengkapnya