Pemadaman Listrik Massal Terjadi Lagi, Seluruh Negeri Gelap Gulita

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Jaringan listrik Kuba kembali mengalami keruntuhan total Minggu malam waktu setempat. Perusahaan listrik milik negara mengumumkan melalui media sosial bahwa sistem kelistrikan nasional runtuh, memicu pemadaman listrik di seluruh negeri dan menambah daftar krisis daya nan terus menghantui negara Karibia tersebut.

Dilansir dari CNN International, Selasa (3/8/2026), pemadaman kali ini menjadi pemadaman nasional pertama nan terjadi pada Agustus. Insiden tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah Kuba nan berpenduduk sekitar 10 juta jiwa mengalami tiga kali pemadaman besar sepanjang Juli.

Gangguan berulang itu terjadi ketika Amerika Serikat (AS) terus memberlakukan blokade minyak nan semakin membebani prasarana daya Kuba nan telah menua. Perusahaan utilitas listrik negara tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai penyebab keruntuhan sistem kelistrikan tersebut.

Krisis daya nan berkepanjangan membikin Kuba makin kesulitan memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Negara itu mengalami kesulitan mengimpor daya sejak AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu.

Venezuela selama ini merupakan sekutu terdekat Havana dan salah satu pemasok daya utama bagi Kuba. Selain itu, Meksiko juga menghentikan ekspor ke Kuba sebagai respons terhadap tekanan dari AS.

Situasi tersebut memperparah masalah pasokan daya nan telah berjalan selama berbulan-bulan. 

Pemadaman bergilir nan terus terjadi sepanjang musim panas disebut semakin menyulitkan kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak penduduk terpaksa bangun pada tengah malam untuk melakukan beragam aktivitas krusial seperti memasak, mencuci, menggunakan internet, hingga mencari langkah untuk mendinginkan tubuh di tengah suhu musim panas nan tinggi.

Ketidakpastian mengenai berapa lama listrik bakal tetap menyala membikin masyarakat kudu menyesuaikan seluruh rutinitas harian mereka.

Di tengah tekanan ekonomi dan daya nan semakin berat, pemerintah Kuba mulai melakukan sejumlah reformasi ekonomi nan selama ini relatif terbatas. Tekanan dari AS disebut secara perlahan mendorong Havana mengambil langkah-langkah baru untuk membuka ruang bagi investasi dan aktivitas sektor swasta.

Pada Juli lalu, Perdana Menteri (PM) Manuel Marrero Cruzden mengumumkan bahwa pemerintah telah menyetujui proyek investasi asing pertama nan bakal mengimpor dan menjual bahan bakar di Kuba.

Reuters melaporkan bahwa nyaris 200 perusahaan di negara tersebut juga telah memperoleh izin untuk terlibat dalam pengedaran bahan bakar secara grosir.

Selain sektor energi, parlemen Kuba juga menyetujui sejumlah langkah nan memungkinkan masuknya investasi swasta ke industri pariwisata. Sektor tersebut selama ini mengalami tekanan berat setelah sejumlah perusahaan hotel besar menghentikan operasinya sebagai respons terhadap hukuman AS serta pembatalan penerbangan akibat kekurangan bahan bakar.

Meski demikian, pemerintah Kuba mengakui bahwa reformasi nan dijalankan saat ini tetap berkarakter berjenjang dan memerlukan waktu sebelum memberikan akibat nyata terhadap perekonomian maupun kondisi daya nasional.

Dalam pernyataannya pada Rabu lalu, Marrero menegaskan bahwa hasil dari reformasi tersebut tidak bakal dirasakan secara instan.

"Hasilnya bakal dicapai secara bertahap," kata Marrero.

Ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar justru dimulai setelah kebijakan-kebijakan baru tersebut disahkan.

"Mulai sekarang, tahap nan paling penting, dan mungkin nan paling sulit, dimulai," ujarnya.

(luc/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya