Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mendukung PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) alias ID FOOD untuk memperkuat ekosistem pengedaran pangan serta memperluas jaringan kemitraan dengan para pedagang. Salah satunya diwujudkan dengan peluncuran Warung Pangan di seluruh Indonesia.
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menuturkan, penemuan Warung Pangan nan dikembangkan ID FOOD dapat menjadi prasarana krusial dalam memperkuat pengedaran pangan nasional. Mengingat, Indonesia sebenarnya telah mempunyai jaringan pasar tradisional nan cukup banyak, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
"Kita mempunyai pasar tradisional nan cukup banyak, menyebar di 514 kabupaten dan kota. Sementara nan kemudian mendapat akses ke grosir dan industri itu biasanya pasar-pasar modern, pasar-pasar tradisional ini separuh meninggal untuk mendapat akses stok peralatan nan bakal dipasarkan. Tentu keberadaan ID FOOD dengan penemuan warung pangan ini kita harapkan menjadi prasarana nan cukup masif di dalam rangka menjaga keterjangkauan dan stabilitas harga," ungkap dia dalam aktivitas Peluncuran Warung Pangan di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2026).
Dirinya bilang, terdapat dua agenda krusial nan dimandatkan kepada ID FOOD, ialah menjaga stabilitas nilai dan keterjangkauan pangan sebagai unit upaya di bagian perdagangan pangan. Dalam perihal ini, Warung Pangan menyediakan beragam produk subsidi maupun komersial. Untuk itu, Warung Pangan diharapkan tidak hanya menjadi penyedia bahan pangan, melainkan juga sebagai perangkat intervensi ketika nilai mulai tidak stabil.
Di samping itu, kehadiran Warung Pangan dinilai bisa mengatasi kebutuhan untuk menggelar operasi pasar secara masif. Sebab, selama ini masalah dalam pengedaran pangan ialah berangkaian keterjangkauan logistik.
Peluncuran Warung Pangan di Pasar Tebet Timur, Senin (20/7/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: Peluncuran Warung Pangan di Pasar Tebet Timur, Senin (20/7/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)
"Dengan adanya ini (Warung Pangan), maka sebenarnya kita tidak perlu lagi membikin tenda-tenda lagi melakukan operasi pasar nan masif jika kita memanfaatkan pasar nan ada. Kita kadang-kadang agak gegabah pada saat harganya kemudian fluktuasi, kita menggelar pasar murah padahal pasarnya sudah ada," jelasnya.
Lantas, Hanif berambisi ID FOOD terus menggencarkan pembinaan, analisa, pertimbangan terhadap Warung Pangan, khususnya untuk meningkatkan stock point (tempat stok pangan).
Ia menegaskan, keberadaan cabang-cabang ID FOOD diharapkan tidak hanya berfaedah sebagai perwakilan saja, tetapi kudu bisa membangun dirinya sebagai agregator dari permasalahan-permasalahan jual beli di tempatnya masing-masing, sehingga mereka bisa mengambil konklusi apa saja komoditas nan semestinya diusahakan ID Food dari produsen alias pabriknya langsung ke Warung Pangan.
"Saya menyambut baik, mudah-mudahan Warung Pangan ini terus bisa diperlebar, terutama menjangkau pada pasar-pasar tradisional. Kita tidak membedakan perlakuan dengan pasar modern, tetapi biasanya pasar modern ini lebih terstruktur dari logistiknya. Pasar tradisional ini saya merasakan sendiri lantaran saya juga orang desa, susahnya kita mencari stok untuk kita jual," terang dia.
Pada saat nan sama, Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo menyatakan bahwa program Warung Pangan tidak bakal berbenturan dengan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) nan sedang digencarkan oleh pemerintah. Sebab, kedua program tersebut mempunyai peran nan berbeda, bakal tetapi untuk saling melengkapi dalam memperkuat pengedaran pangan nasional.
"ID FOOD itu dia bakal mengembankan stabilisasi nilai di luar barang-barang subsidi. Karena ID FOOD kelak mendapat mandat sebagai BUMN Pangan, khususnya perdagangannya nan bakal bermain di jenis pangan," ungkap dia.
Menurutnya, ID FOOD juga bakal bekerja-sama dengan KDMP sebagai agregator komoditas di beragam daerah. Langkah ini ditempuh untuk bisa mendapatkan komoditas unggulan dari suatu wilayah dan dipasarkan ke wilayah lainnya nan membutuhkan. Alhasil, potensi komoditas unggulan produksi lokal tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal.
"Jadi ID FOOD itu nan paling utama adalah menggandeng mitra. Menggandeng mitra di pasar-pasar tradisional. Supaya nilai itu stabil. Karena nan menjadi mitra Warung Pangan, itu punya komitmen dengan kita. Kita kasih nilai minimum, tapi dia kudu menjual maksimum di nilai HET," kata Ghimoyo.
Sebagai gambaran, saat terjadi gejolak nilai di pasar, para mitra tidak boleh meningkatkan nilai lantaran sudah mendapatkan nilai nan cukup murah dari ID FOOD. Harapannya, seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan stabilisasi nilai dan kesiapan pangan.
Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro menjelaskan, saat ini sudah ada sekitar 8.000 mitra Warung Pangan di seluruh Indonesia. Targetnya, pada akhir tahun ini bisa menjangkau 25.000-27.000 mitra Warung Pangan.
"Tentunya program ini kita targetkan bakal aktif di seluruh wilayah di mana ID FOOD sekarang ini beroperasi. ID FOOD bakal mempunyai alias sekarang ini memanage 42 bagian nan ada di seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh sampai nan paling timur ada di Papua. Jadi ini di setiap bagian itu mempunyai sasaran untuk mengembangkan jaringan warung pangan nan kita roll out saat ini," tutur dia.
Dia bilang, Warung Pangan merupakan jaringan warung milik pedagang nan terhubung dengan sistem pengedaran dan logistik ID FOOD. Adapun produk nan dipasarkan meliputi kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, tepung hingga air minum dalam kemasan. Selain produk merek ID FOOD, BUMN pangan nan satu ini juga membuka kesempatan untuk mendistribusikan produk dari merek lain.
(wur)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
7







English (US) ·
Indonesian (ID) ·